List Arsip of Ilmu Komunikasi


IDENTIFIKASI BAHAYA DAN PENGENDALIAN RISIKO KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA MENGGUNAKAN METODE HIRARC AREA WORKSHOP DI PT. MSS

By ummuliawarlis05@gmail.com

ABSTRAKWorkshop memiliki potensi bahaya yang tinggi sehingga dapatmembahayakan keselamatan pekerja yang menunaikan tugas, melakukan pekerjaandidalam ruang terbatas diperlukan upaya pencegahan untuk menghindari terjadinyakecelakaan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui bagaimana penerapanmanajemen risiko K3 pada pekerjaan di area Workshop dan juga mengidentifikasipotensi bahaya dan melakukan pengendalian resiko bahaya yang mungkin terjadidi area Workshop. Jenis desain penelitian yang digunakan adalah penelitiandeskriptif dengan teknik analisis kualitatif dengan menggunakan data primer yangdiperoleh dari hasil wawancara dan kuesinoer dengan 8 orang karyawan sebagairesponden. Dari hasil penelitian identifikasi yang dilakukan di PT. MSSmenggunakan metode Hazard Identification Risk Assesment and Risk Control padaarea Workshop terdapat 42 total potensi bahaya yang terdiri dari 32 resiko yangmeyangkut bahaya keselamatan dan 10 resiko bahaya kesehatan dengan terdapat28 potensi bahaya dengan kategori rendah, 13 potensi bahaya kategori sedang, dan1 potensi bahaya kategori tinggi. Pengendalian tambahan dilakukan pada potensibahaya adanya percikan api pada saat proses pengelasan dan juga cutting whellyaitu dengan cara penerapan 5R dan juga menyediakan lemari khusus untyk bahanyang mudah terbakar. Saran: penerapan 5R pada saat bekerja, memberikankesempatan kepada pekerja untuk mendapat pelatihan mengenai K3 dan jugamenyediakan pekerja yang khusus yang bertanggung jawab untuk merapikanbarang dan peralatan kerja.Kata kunci: Workshop, HIRARC, Risiko, BahayaABSTRACTWorkshops have a high potential for danger so that they can endanger the safety ofworkers carrying out their duties. Carrying out work in a confined space requirespreventive measures to avoid accidents. The aim of this research is to find out howK3 risk management is implemented in work in the Workshop area and also toidentify potential hazards and control the risks of hazards that may occur in theWorkshop area. The type of research design used is descriptive research withqualitative analysis techniques using primary data obtained from interviews andquestionnaires with 8 employees as respondents. From the results of identificationresearch conducted at PT. MSS uses the Hazard Identification Risk Assessment andRisk Control method in the Workshop area, there are 42 total potential hazardsconsisting of 32 risks involving safety hazards and 10 health hazard risks with 28potential hazards in the low category, 13 potential hazards in the medium category,and 1 potential high category danger. Additional control is carried out on thepotential danger of sparks during the welding process and also cutting wheels,namely by implementing 5R and also providing special cabinets for flammablematerials. Suggestion: apply 5R at work, provide opportunities for workers toreceive training regarding K3 and also provide special workers who areresponsible for tidying up work items and equipment.Keywors: Workshop, HIRARC, Risk, Hazard

EVALUASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH DOMESTIK DI GLODOK PLAZA JAKARTA

By achmadjakarta2017@gmail.com

ABSTRAKAir limbah domestik umumnya yang berasal dari suatu kegiatan komersial atauPerumahan, Restoran, Kantor, Apartemen dan asrama biasanya dihasilkan darikegiatan manusia. Pada awalnya, air limbah di Jakarta hanya dibuang langsung kesungai atau saluran air tanpa pengolahan terlebih dahulu. Hal ini disebabkan karenamasih minimnya fasilitas pengolahan air buangan kota (sewerage system), sehinggamengakibatkan tercemarnya badan-badan sungai (Said, 2020). Glodok PlazaJakarta berada di wilayah komersial dan merupakan pusat perbelanjaan yangterletak di daerah Jakarta Barat sehingga merupakan salah satu tempat penghasil airlimbah domestik yang cukup besar. Air limbah domestik yang ada di Glodok Plazabersumber dari toilet atau wastafel cuci tangan, hotel dari kamar mandi dan dapurmakanan, serta Food Court dari dapur makanan yang kemudian air limbah tersebutdiolah agar hasil buangan tidak mencemari lingkungan. Pada bulan Januari 2023parameter amonia memiliki nilai sebesar 9 mg/l berdasarkan hasil tersebut yangmendekati baku mutu sebesar 10 mg/l menurut Permen LHK No. 68 Tahun 2016tentang air limbah domestik. Hal ini dikhawatirkan untuk pengolahan kedepan nyaIPAL tersebut tidak dapat mengolah parameter amonia sesuai baku mutu yangditetapkan menurut Permen LHK No. 68 Tahun 2016. Permasalahan dalampenelitian ini adalah di Glodok Plaza Jakarta belum pernah dilakukan pengujianInlet pada air limbah domestik dan hanya di lakukan pengujian Outlet. Sehinggabelum bisa diketahui berapa persen efisiensi penyisihan parameter pada pengolahanair limbah domestik. Pada penelitian ini parameter yang akan diuji terdapat 7parameter yaitu pH, BOD, COD, amonia, TSS, Total Coliform, Minyak dan Lemaksesuai dengan baku mutu Permen LHK No. 68 Tahun 2016 tentang air limbahdomestik. Dari hasil pengujian yang dilakukan di Laboratorium Universitas SahidJakarta hasil analisis parameter yang didapatkan semua sudah memenuhi baku mutudan efisiensi pengolahan air limbah pada setiap parameternya masuk ke dalamkategori efisien dan sangat efisien, diantaranya untuk parameter BOD memilikinilai 74,24%, COD memiliki nilai 91,57%, Amonia memiliki 98,14%, Minyak danLemak memiliki nilai 93,69%, Total Coliform memiliki nilai 98,58%, dan TSSmemiliki nilai 91,39%.Kata Kunci : Pengolahan Air Limbah Domestik, Alur Pengolahan IPAL Domestik,Efisiensi IPAL Domestik, Uji Inlet dan Outlet Air Limbah Domestik,Pusat Perbelanjaan.ABSTRACTDomestic wastewater generally derived from commercial activity or housing,restaurants, offices, apartments, and hostels is generally produced from humanactivities. Initially, Jakarta's sewage was only discharged directly into rivers orwaterways without prior treatment. This is because the sewerage system is still low,causing the river bodies to be contaminated. (Said, 2020). The Glodok PlazaJakarta is located in a commercial area and is a shopping center located in theWest Jakarta region, making it one of the major domestic wastewater generators.The domestic wastewater at Glodok Plaza comes from the toilet or laundry room,the hotel from the bathroom and dining kitchen, and the Food Court from the foodkitchen where the wastewater is then treated so that the wastewater does not pollutethe environment. As of January 2023, the ammonia parameter has a value of 9 mg/lbased on such results which is close to the quality standard of 10 mg/L accordingto Permen LHK No. 68 of 2016 on domestic wastewater. It is concerned for itsfuture processing the IPAL cannot process ammonia parameters in accordancewith the quality standards established according to Permen LHK No. 68 Year 2016.The problem with this study is that at Glodok Plaza Jakarta we have not performedan Inlet test on domestic wastewater and only an Outlet test. So it has not beenknown how much the efficiency of the parameter separation on the domestic sewagetreatment is. In this study, the parameters to be tested are 7 parameters namely pH,BOD, COD, ammonia, TSS, Total Coliform, Oils and Fats in accordance with thestandard quality Permen LHK No. 68 Year 2016 on domestic wastewater. From theresults of the testing carried out at the University of Sahid Jakarta Laboratory, theparameter analysis results obtained all already meet the standard quality andefficiency of wastewater treatment on each parameter falls into the category ofefficient and highly efficient, among them for the parameters BOD has a value of74.24%, COD has the value of 91,57%, Ammonia has 98.14%, Oil and Fats has arating of 93.69%, Total Coliform has a score of 98.58%, and TSS has a rate of91.39%.Keywords : Domestic Wastewater Treatment, Domestic IPAL Treatment Pipeline,Home IPAL Efficiency, Inlet and Home Waste Water Outlet Testing,Shopping Center.

ANALISIS KEMAMPUAN RUANG TERBUKA HIJAU DALAM MEREDUKSI KONSENTRASI CO2 DI KANTOR WALIKOTA BEKASI

By tanyamartinus@gmail.com

ABSTRAKMARTINUS EMILE ZOLA MANURUNG. Analisis Kemampuan RuangTerbuka Hijau dalam Mereduksi Konsentrasi CO2 di Kantor Walikota Bekasi.Dibimbing oleh Dr. Ninin Gusdini, MT. dan PS. Dyah Prinajati, ST. MT.Perkembangan pembangunan perkotaan berdampak terhadap perubahanpemanfaatan ruang, baik direncanakan maupun tidak direncanakan. Perubahanfungsi penggunaan lahan yang terjadi pada umumnya hanya mempertimbangkanfaktor ekonomi sehingga sering menimbulkan fenomena permasalahan lingkungan.Perkembangan dan pembangunan Kota Bekasi, baik kegiatan pemerintahan,pemukiman, industri serta perdagangan dan jasa sering kali mengabaikanpenyediaan ruang terbuka hijau. Ruang terbuka hijau (RTH) di wilayah perkotaanmerupakan bagian dari penataan ruang kota yang berfungsi sebagai kawasan hijaupertamanan kota, kawasan hijau hutan kota, kawasan hijau rekreasi kota, kawasanhijau kegiatan olahraga dan kawasan hijau pekarangan. Kawasan perkantoranWalikota Bekasi memiliki ruang terbuka hijau seluas 47.967 M2 berperan sebagaipenghasil oksigen, penyerapan karbon dioksida (CO2), peredam kebisingan danpenambah estetika suatu bangunan sehingga tampak asri, memberikankeseimbangan serta keserasian antara bangunan dan lingkungan.Emisi karbon dioksida dihitung dari jumlah kendaraan yang masuk dankeluar kantor Walikota Bekasi dan pemeliharaan mesin genset. Total emisi karbondioksida yang dihasilkan di kantor Walikota Bekasi sebesar 45,898 ton/tahun.Emisi karbon dioksida dari kendaraan sebesar 45,738 ton/tahun dan dari mesingenset sebesar 0,16 ton/tahun. Daya serap emisi karbon dioksida oleh tanamandihitung dengan pendekatan tipe tutupan vegetasi yaitu pohon dan rumput. Dayaserap karbon dioksida keseluruhan adalah sebesar 2.419,58 ton/tahun, yang terdiriatas daya serap oleh pohon sebesar 2.412,86 ton/tahun dan rumput sebesar 6,72ton/tahun. Dengan demikian ruang terbuka hijau Kantor Walikota Bekasi dapatmenyerap seluruh emisi karbon dioksida yang dihasilkan.Kata kunci: Daya serap CO2, Emisi CO2, Kantor Walikota Bekasi.ABSTRACTMARTINUS EMILE ZOLA MANURUNG. Analysis of Green Open Space’sAbility in Reducing CO2 Concentration in Bekasi Mayor’s Office. Supervised byDr. Ninin Gusdini, MT. and PS. Dyah Prinajati, ST. MT.The Urban Development impacts the change in spatial utilization, whetherplanned or unplanned. Generally, the changes in land use function only considereconomic factors that often cause phenomena of environmental problems. Theconstruction and development of Bekasi City, whether government activities,residential, industrial as well as trade and services often ignore the provision ofgreen open space. Green Open Space in urban areas is part of urban spatial planthat has functions as a green garden, green forest area, green recreation area,green sport area and green yard area. Bekasi Mayor’s Office area Has 47.967 m2of green open space which acts as an oxygen producer, carbon dioxide absorber,noise reduction and aesthetic enhancer of a building to be looked beautiful,providing balance and harmony between buildings and environment.Carbon dioxide emissions are calculated from the number of vehicles thatentering and leaving Bekasi Mayor’s Office and the maintenance of generatorengines. Total of carbon dioxide emissions generated at Bekasi Mayor’s Office are45,898 tons/year. Carbon dioxide emissions from vehicles are 45,738 tons/year andfrom generator engines are 0,16 tons/year. The absorption capacity of carbondioxide emission by plants is calculated based on the type of vegetation cover treesand grass. The overall absorption of carbon dioxide is 2.419,58 tons/year, whichconsists trees absorption capacity is 2.412,86 tons/year and grass absorptioncapacity is 6,72 tons/year. Thus the green open space of Bekasi Mayor’s Office canabsorb all carbon dioxide emissions.Keyword: CO2 absorption, CO2 Emissions, Bekasi Mayor’s Office.

ANALISIS EFISIENSI KONSUMSI ENERGI DALAM MEREDUKSI GAS RUMAH KACA PADA STASIUN GAS MUARA BEKASI PT PERUSAHAAN GAS NEGARA TBK

By rexsihendrawan22@gmail.com

ABSTRAK   Penghematan energi listrik harus dilakukan untuk mengatasi permasalahan krisis energi. Penghematan energi listrik dapat dilakukan dengan melakukan efisiensi konsumsi energi. Efisiensi konsumsi bertujuan untuk mengetahui profil penggunaan energi suatu bangunan gedung dan mencari upaya peningkatan efisiensi penggunaan energi tanpa mengurangi tingkat kenyamanan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui profil beban energi pada Stasiun Gas Muara Bekasi PT Perusahaan Gas Negara Tbk, mengukur konsumsi energi listrik pada Stasiun Gas Muara Bekasi PT Perusahaan Gas Negara Tbk serta mengetahui besaran penghematan biaya efisiensi konsumsi energi yang bisa dihemat dengan mereduksi gas rumah kaca dan aktivitas apa yang dilakukan untuk mereduksi gas rumah kaca di PT Perusahaan Gas Negara Tbk. Metode penelitian yang digunakan bersifat deskriptif, dengan teknik pengumpulan data menggunakan studi lapangan, metode assesmen energi, pelaksanaan pengumpulan data menggunakan audit energi awal dan audit energi rinci. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efisiensi konsumsi energi dilakukan di seluruh area stasiun gas muara Bekasi yaitu di raungkan kontrol yang meliputi control room, IT Room, Battery Room dan Electrical room ber-AC dengan jenis lampu TL LED dan CFL yang dioperasikan 24 jam/hari. Hasil pengukuran penggunaan energi pada periode bulan Januari 2021 sampai dengan Juni 2021 diperoleh hasil terdapat 5 ruangan sudah memenuhi Standard SNI 6197-2011 serta ada 4 ruangan masih belum memenuhi standar Standard SNI 6197-2011. Pencahayaan di Stasiun Gas Muara Bekasi PT. Perusahaan Gas Negara Tbk diperoleh pencahayaan yang kuat di 8 ruangan, intensitas daya AC pada Stasiun Gas Muara Bekasi PT. Perusahaan Gas Negara Tbk dari 6 ruangan yang terpasang AC hanya 1 ruangan yang memenuhi baik secara temperatur maupun kelembaban. Intensitas Konsumsi Energi Listrik (IKE) pada Stasiun Gas Muara Bekasi PT. Perusahaan Gas Negara. Tbk sesuai dengan Standar Intensitas Daya Pencahayaan dan Kuat Pencahayaan berdasarkan Standar SNI 6197-2011. Hasil audit yang dilakukan menghasilkan reduksi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 3.024 Kg CO2/hari atau 786.24 Kg CO2/tahun lampu dari Sodium 250 Watt ke LED 150 Watt. Pergantian lampu Sonte 400 Watt dengan LED 280 Watt menghasilkan reduksi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 5.6448 Kg CO2/hari atau 1467.64 Kg CO2/tahun. Penggunaan AC dengan merubah temperatur AC dari temperatur 230C ke 240C yang menghasilkan reduksi Gas Rumah Kaca (GRK) 281.736 Kg CO2/hari atau 73251,36 Kg CO2. Kata Kunci: Efisiensi, Konsumsi Energi, Gas Rumah Kaca   ABSTRACT   Electrical energy savings must be made to overcome the energy crisis problem. Saving electrical energy can be done by making energy consumption efficient. Consumption efficiency aims to determine the energy use profile of a building and seek efforts to increase the efficiency of energy use without reducing the level of comfort. The aim of this research is to determine the energy load profile at the Muara Bekasi Gas Station PT Perusahaan Gas Negara Tbk, measure electrical energy consumption at the Muara Bekasi Gas Station PT Perusahaan Gas Negara Tbk and determine the amount of energy consumption efficiency cost savings that can be saved by reducing greenhouse gases and what activities are carried out to reduce greenhouse gases at PT Perusahaan Gas Negara Tbk. The research method used is descriptive, with data collection techniques using field studies, energy assessment methods, data collection implementation using initial energy audits and detailed energy audits. The results of the research show that efficient energy consumption is carried out in the entire Muara Bekasi gas station area, which includes controls that include:control room, IT Room, Battery Room andElectrical room Air-conditioned with LED and CFL TL lamps operated 24 hours/day. The results of measuring energy use in the period January 2021 to June 2021 showed that 5 rooms had met the SNI 6197-2011 Standard and 4 rooms had not yet met the SNI 6197-2011 Standard. Lighting at Muara Bekasi Gas Station PT. Perusahaan Gas Negara Tbk obtained strong lighting in 8 rooms, AC power intensity at the Muara Bekasi PT Gas Station. Perusahaan Gas Negara Tbk, of the 6 rooms that have AC installed, only 1 room meets both temperature and humidity. Electrical Energy Consumption Intensity (IKE) at Muara Bekasi Gas Station PT. National gas Company. Tbk in accordance with the Lighting Power Intensity and Lighting Strength Standards based on SNI 6197-2011 Standards. The results of the audit carried out resulted in a reduction in Green House Gases (GHG) of 3,024 Kg CO2/day or 786.24 Kg CO2/light year from Sodium 250 Watt the LED 150Watt. Changing lightsTONIGHT 400 Watt with 280 LEDsWatt resulting in a Green House Gas (GHG) reduction of 5,6448 Kg CO2/day or 1467.64 Kg CO2/year. Use AC by changing the AC temperature from temperature 230C ke 240C which results in a reduction in Green House Gases (GHG) of 281,736 Kg CO2/day or 73251,36 Kg CO2.   Keywords: Efficiency, Energy Consumption, Greenhouse Gases

PENDEKATAN LEAN MANUFACTURING SEBAGAI USULAN PERBAIKAN UNTUK MENGURANGI WASTE DI PT ABC

By fikri.herdiansyah2002@gmail.com

ABSTRAKPT ABC bergerak di bidang industri manufaktur memproduksi herbisida selektifsediaan cair. PT ABC memiliki dua bagian dalam departemen produksi yaitubagian formulasi dan repack. Permasalahan yang sering terjadi adalah prosesrepack herbisida kemasan 40 mL mengalami kehilangan herbisida dan pelaporanoutput WIP setiap akhir shift tidak direkam secara baik oleh operator. Sejak bulanJanuari sampai Juni 2023 terjadi kehilangan herbisida sebanyak 249 liter atau1,42% dimana ini melebihi batas maksimal kehilangan herbisida sebesar 1%.Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi waste pada proses repackherbisida kemasan 40 mL beserta faktor penyebab terjadinya, serta usulanperbaikan dengan menggunakan pendekatan Lean Manufacturing. Penelitiandiawali dengan pengumpulan data, seperti alur proses, waktu prores, observasidan wawancara Brainstroming. Selanjutnya dilakukan pemetaan aliran ptosesmenggunakan Value Stream Mapping (VSM) dan Process Activity Mapping(PAM). Lalu dilakukan identifikasi waste dan faktor penyebabnya menggunakandiagram fishbone. Setelah diketahui waste dan penyebabnya, dibuatkan usulanperbaikan guna meminimasi waste. Jenis waste yang teridentifikasi adalahpenggunaan bahan baku berlebih dan proses tidak tepat (inappropriateprocessing) dengan faktor penyebab utama tercecernya herbisida saat prosestransfer ke hopper akibat penggunaan handpump dan kesalahan hitung saaatproses menghitung WIP yang dilakukan secara manual. Lalu diberikan usulanperbaikan mengganti drum dengan IBC yang diberikan dudukan serta adaptorkeran sesuai desain, pengadaan sensor hitung otomatis, pengadaan papan untukpenyusunan WIP, serta APD, pelatihan dan sosialisasi SOP untuk menunjangkinerja operator.Kata kunci: herbisida, repack, lean manufacturing, value stream mapping,process activity mapping, fishboneABSTRACTPT ABC is engaged in the manufacturing industry producing liquid selectiveherbicides. PT ABC has two sections in the production department, namely theformulation and repack sections. The problem that often occurs is that the processof repacking 40 mL herbicide packages experiences loss of herbicide and the WIPoutput reporting at the end of each shift is not recorded properly by the operator.From January to June 2023 there was a herbicide loss of 249 liters or 1.42%,which exceeds the maximum herbicide loss limit of 1%. This research aims toidentify waste in the 40 mL herbicide repack process along with the factorscausing it, as well as suggestions for improvements using the Lean Manufacturingapproach. The research began with data collection, such as process flow, processtime, observation and brainstorming interviews. Next, process flow mapping iscarried out using Value Stream Mapping (VSM) and Process Activity Mapping(PAM). Then identify waste and its causal factors using a fishbone diagram. Afterknowing the waste and its causes, proposals for improvement are made tominimize waste. The type of waste identified is the use of excess raw materials andinappropriate processing, with the main factors being the spillage of herbicideduring the transfer process to the hopper due to the use of a handpump andcalculation errors during the manual WIP calculation process. Thenrecommendations for improvements were given to replace the drum with an IBCwhich was provided with a stand and tap adapter according to the design,procurement of automatic counting sensors, procurement of boards for preparingWIP, as well as PPE, training and dissemination of SOPs to support operatorperformance.Keywords: herbicide, repack, lean manufacturing, value stream mapping, processactivity mapping, fishbone

ANALISIS RISIKO KESELAMATAN BERWISATA DI TAMAN WISATA HUTAN BAMBU KOTA BEKASI DENGAN MENGGUNAKAN HIRADC

By imtinantina75@gmail.com

ABSTRAK Taman Wisata Hutan Bambu Kota Bekasi merupakan tempat yang banyakdikunjungi oleh wisatawan, namun memiliki potensi bahaya disetiap kegiatannyabaik bagi pengelola maupun wisatawan serta belum menerapkan upayapengendalian atau prosedur keselamatan wisata. Tujuan penelitian ini yaitu untukmendapatkan risiko bahaya yang dapat menyebabkan kondisi tidak selamat,mendapatkan tingkat risiko, dan mendapatkan upaya pengendalian risiko. Teknikpengumpulan data dengan observasi dan kuesioner kepada 100 respondenpenelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu HIRADC (HazardIdentification, Risk Assessment, and Determining Control). Hasil penelitianmenunjukkan bahwa terdapat 9 aktivitas wisata, yaitu perjalanan menuju lokasiwisata, menaiki panggung acara, bernyanyi di atas panggung, menaiki perahuwisata, spot foto, menggunakan fasilitas saung, menggunakan fasilitas toilet, danmenyediakan makanan dan minuman kepada wisatawa. Dari 9 aktivitas tersebut,ditemukan sebanyak 30 potensi bahaya dan risiko. Berdasarkan perhitunganseverity index dari tingkat kemungkinan dan tingkat dampak risiko, didapatkan 6risiko ekstrim (extreme risk), 3 risiko tinggi (high risk), 10 risiko sedang (mediumrisk), dan 11 risiko rendah (low risk). Usulan pengendalian risiko pada penelitianini yaitu dengan membuat Standar Operasional Prosedur (SOP), melakukanhimbauan dan pengawasan kepada wisatawan, memasang rambu K3, rutinmelakukan pemeriksaan di area sumber bahaya, memakai Alat Pelindung Diri(APD), memberikan pelatihan kepada pengelola, melakukan perbaikan areasumber bahaya.Kata Kunci : Bahaya, Risiko, Keselamatan, Pariwisata, HIRADC     ABSTRACT Taman Wisata Hutan Bambu Kota Bekasi is a place that is visited by manytourists, but has potential hazards in every activity for both managers and touristsand has not implemented tourist control measures or safety procedures The aim ofthis research is to obtain hazard risks that can cause unsafe conditions, obtainrisk levels, and obtain risk control efforts. Data collection techniques usingobservation and questionnaires to 100 research respondents. The method used inthis research is HIRADC (Hazard Identification, Risk Assessment, andDetermining Control). The research results show that there are 9 touristactivities, namely traveling to tourist locations, climbing event stages, singing onstage, riding tourist boats, photo spots, using hut facilities, using toilet facilities,and providing food and drinks to tourists. Of these 9 activities, 30 potentialhazards and risks were found. Based on the severity index calculation of the levelof probability and level of risk impact, we obtained 6 extreme risks, 3 high risks,10 medium risks and 11 low risks. The proposed risk control in this research is tocreate Standard Operating Procedures (SOP), provide advice and supervision totourists, install K3 signs, routinely carry out inspections in areas where there aresources of hazard, use Personal Protective Equipment (PPE), give the training tomanagers, carry out repairs in areas where there are sources of hazard.Keywords: Hazard, Risk, Safety, Tourism, HIRADC

ANALISA KEPUASAN PELANGGAN TERHADAP KUALITAS PELAYANAN DI CAFÉ GRAVE COFFEE MENGGUNAKAN METODE QFD

By refanole29@gmail.com

ABSTRAKKualitas produk dan jasa merupakan salah satu kunci sukses didalam persainganbisnis kuliner. Grave coffee merupakan salah satu cafe yang berketempatan diwilayah Tambun Selatan, cafe grave coffee menawarkan berbagai macam minumancoffee dan makanan ringan. menu di cafe grvae coffee bervariasi sehingga membuatpelanggan tidak cepat bosan dengan pilihan menu yang di sediakan. cafe gravecoffee juga menjual produk nya secara online dengan menggunakan aplikasi onlineshop dan sosial media. Adanya keinginan perusahan untuk mengetahui tingkatkepuasan pelanggan terhadap kualitas pelayanan pada cafe grave coffee. Maka dariitu metode Quality Function Deployment digunakan sebagai implementasi solusi.Dari hasil penelitian yang dilakukan, didapatkan 10 atribut pelayanan yang menjadiprioritas konsumen terhadap cafe grave coffe berdasarkan tingkat ekspektasi /harapan terbesar ke terkecil adalah Memiliki ruangan yang nyaman ( dimensitangible ), Perusahaan memberikan pelayanan tanpa melihat status maupunkedudukan konsumen ( dimensi empathy ) , Memiliki karyawan yang bersih danrapih (tangible ), Ketersediaan fasilitas penunjang (toilet, wastafel, mushola, livemusik, wifi, area parkir) (dimensi tangible ), Kemudahan dalam memesan ( dimensiassurance ), Karyawan mengutamakan kepentingan konsumen (dimensi empathy ),Kualitas rasa, makanan dan minuman yang konsisten ( dimensi realibility ),Karyawan menguasai informasi produk ( dimensi assurance ), Kemudahan dalampembayaran ( dimensi assurance ), Karyawan memberikan perhatian personalkepada pelanggan (ucapan selamat datang, terima kasih, dan maaf jika terjadisesuatu hal ( dimensi empathy ). Berdasarkan hasil dari kekurangan dan keunggulandiketahui semua atribut layanan pada cafe grave coffee lebih unggul dibandingkandengan cafe garis coffee.Kata kunci : peningkatan kualitas, Quality Function DeploymentABSTRACTProduct and service quality is one of the keys to success in the competitive culinarybusiness. Grave Coffee is a cafe located in the South Tambun area. Grave CoffeeCafe offers various kinds of coffee drinks and snacks. The menu at the Grvae coffeecafe is varied so that customers don't get bored quickly with the menu choicesprovided. Cafe Grave Coffee also sells its products online using online shoppingapplications and social media. The company wants to know the level of customersatisfaction with the quality of service at Grave Coffee Cafe. Therefore, the QualityFunction Deployment method is used to implement the solution. From the results ofthe research carried out, it was found that 10 service attributes are priorities forconsumers towards Cafe Grave Coffee based on the level ofexpectations/expectations from largest to smallest: Having a comfortable room(tangible dimension), the company providing services without looking at the statusor position of the consumer (empathy dimension), Having employees who are cleanand tidy (tangible), Availability of supporting facilities (toilets, sinks, prayer rooms,live music, wifi, parking area) (tangible dimension), Ease of ordering (assurancedimension), Employees prioritize consumer interests (empathy dimension),consistent quality of taste, food, and drinks (reliability dimension), Employeesmaster product information (assurance dimension), ease of payment (assurancedimension), Employees provide personal attention to customers (greeting welcome,thank you, and sorry if something happens) (empathy dimension). Based on theresults of the advantages and disadvantages, it is known that all service attributesat Grave Coffee cafes are superior to those at Line Coffee cafes.Keywords : quality improvement, quality function deployment.

HUBUNGAN PENDIDIKAN TERAKHIR DAN PENGETAHUAN IBU TENTANG GIZI TERHADAP KEJADIAN UNDERWEIGHT PADA BALITA (24-59 BULAN) DI DESA SRIAMUR

By warsihsn12@gmail.com

ABSTRAK  Masa balita merupakan masa yang membutuhkan asupan gizi yangoptimal karena pada usia ini proses pertumbuhan dan perkembangan sangat pesat.Gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi pada balita disebabkan olehbanyak faktor diantaranya pendidikan terakhir ibu dan pengetahuan ibu tentang giziyang berkaitan langsung dengan penerimaan informasi dari luar tentang asupan makanbalita. Ketidakcukupan zat gizi pada balita akan berakibat pada kesehatan yang jikadibiarkan akan berdampak pada masalah gizi salah satunya adalah berat badan kurang(underweight). Penelitian ini bertujuan untuk mengalisis hubungan pendidikanterakhir dan pengetahuan ibu tentang gizi terhadap kejadian underweight pada balita(24-59 bulan) di Desa Sriamur. Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional secara purposive sampling dengan jumlah populasi berjumlah 80 responden.Data terkait pendidikan terakhir ibu diukur dengan kuesioner data umum responden,pengetahuan ibu tentang gizi diukur dengan kuesioner pengetahuan gizi dan polamakan balita diukur dengan kuesioner food frequency questionnaire (FFQ). Analisisuji hubungan dilakukan dengan menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa mayoritas ibu adalah berpendidikan tinggi sejumlah 57,5%dengan tingkat pengetahuan baik sejumlah 68,8% dan terdapat balita dengan beratbadan kurang (underweight) sejumlah 13,8%. Analisis bivariat menunjukkan terdapathubungan yang signifikan antara pendidikan terakhir ibu dengan kejadian underweightpada balita (24-59 bulan) (p=0,001) dengan nilai OR=18,750 dan terdapat hubunganyang signifikan antara pengetahuan ibu tentang gizi dengan kejadian underweight padabalita (24-59 bulan) (p=0,000) dengan nilai OR=14,906. Kesimpulan pada penelitianini adalah pendidikan terakhir ibu dan pengetahuan ibu tentang gizi mempengaruhikejadian underweight pada balita (24-59 bulan).Kata kunci: Balita, Pendidikan Ibu, Pengetahuan Gizi, Posyandu, Underweight  ABSTRACT The toddler years are a period that requires optimal nutritional intakebecause at this age the growth and development process is very rapid. Growth anddevelopment disorders that occur in toddlers are caused by many factors, includingthe mother's latest education and the mother's knowledge about nutrition, which isdirectly related to receiving information from outside about the toddler's food intake.Insufficient nutrition in toddlers will have an impact on health which, if left unchecked,will result in nutritional problems, one of which is underweight. This study aims toanalyze the relationship between recent education and maternal knowledge aboutnutrition on the incidence of underweight in toddlers (24-59 months) in SriamurVillage. The research design used was cross-sectional with purposive sampling with apopulation of 80 respondents. Data related to maternal education were most recentlymeasured using a general respondent data questionnaire, maternal knowledge aboutnutrition was measured using a nutritional knowledge questionnaire and toddlers'eating patterns were measured using a food frequency questionnaire (FFQ). Analysisof relationship tests was carried out using the Chi-Square test. The research resultsshowed that the majority of mothers were highly educated 57,5%, with a good level ofknowledge 68,8%, and there were 13,8% underweight toddlers. Bivariate analysisshows that there is a significant relationship between the mother's last education andthe incidence of underweight in toddlers (24-59 months) (p=0.001) with a value ofOR=18.750 and there is a significant relationship between maternal knowledge aboutnutrition and the incidence of underweight in toddlers (24- 59 months) (p=0.000) withOR=14.906. The conclusion of this study is that the mother's latest education and themother's knowledge about nutrition influence the incidence of underweight in toddlers(24-59 months).Keywords: Mother's Education, Nutritional Knowledge, Posyandu, Toddlers,Underweight

HUBUNGAN PEER GROUP SUPPORT DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN KONSUMSI PANGAN TINGGI KALORI PADA REMAJA GIZI LEBIH DI SMA AL-AZHAR 2 PEJATEN

By alyasyahira32@gmail.com

ABSTRAK Peer Group Support merupakan dukungan sosial dalam suatupertemanan. Peer group support dapat mempengaruhi keputusan remaja, salah satunyadalam keputusan pemilihan makanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisishubungan peer group support dan aktivitas fisik dengan konsumsi pangan tinggi kaloridan IMT dan lingkar perut pada remaja gizi lebih. Desain penelitian ini adalah cross-sectional. Populasi pada penelitian ini adalah siswa siswi SMA Al – Azhar 2 Pejatenyang memenuhi kriteria inklusi, dan sampel pada penelitian ini sebanyak 70 respondendengan teknik purposive sampling. Hasil uji korelasi spearman menunjukan tidakterdapat hubungan yang signifikan antara peer group support dengan konsumsi pangantinggi kalori pada remaja gizi lebih (p=0,067) dan sedentary lifestyle dengan konsumsipangan tinggi kalori pada remaja gizi lebih (p=0,039). Terdapat hubunan berlawananantara sedentary lifestyle dengan IMT (p=0,003 ;r=-0,352) dan lingkar perut(p=0,016;r-0,0288). Terdapat hubungan yang signifikan antara peer group supportdengan IMT (p=0,034;r=0,254) dan lingkar perut (p=0,001;r=0,376). Terdapathubungan yang signifikan antara konsumsi pangan tinggi kalori dengan IMT(p=0,037;r=0,249) dan lingkar perut (p=0,008;r=0,314). Kesimpulan penelitian initidak terdapat hubungan antara peer group support dan sedentary lifestyle dengankonsumsi pangan tinggi kalori pada remaja gizi lebih di SMA Al – Azhar 2 Pejaten.Terdapat hubungan yang berlawanan antara sedentary lifestyle dengan IMT danlingkar perut dan terdapat hubungan yang signifikan antara peer group support dankonsumsi pangan tinggi kalori dengan IMT dan lingkar perut.Kata Kunci : Remaja, Konsumsi Pangan Tinggi Kalori, Sedentary Lifestyle, PeerGroup Support ABSTRACT  Peer Group Support is social support within a friendship group. Peergroup support can influence adolescents' decisions, including food choices. This studyaims to analyze the relationship between peer group support and physical activity withhigh-calorie food consumption, BMI, and waist circumference in overweightadolescents. The study design is cross-sectional. The population of this study includesstudents from SMA Al-Azhar 2 Pejaten who meet the inclusion criteria, and the sampleconsists of 70 respondents selected through purposive sampling. Spearmancorrelation test results indicate no significant relationship between peer group supportand high-calorie food consumption in overweight adolescents (p=0.067) andsedentary lifestyle with high-calorie food consumption (p=0.039). There is an inverserelationship between sedentary lifestyle and BMI (p=0.003; r=-0.352) and waistcircumference (p=0.016; r=-0.288). There is a significant relationship between peergroup support and BMI (p=0.034; r=0.254) and waist circumference (p=0.001;r=0.376). There is a significant relationship between high-calorie food consumptionand BMI (p=0.037; r=0.249) and waist circumference (p=0.008; r=0.314). Theconclusion of this study is that there is no relationship between peer group supportand sedentary lifestyle with high-calorie food consumption in overweight adolescentsat SMA Al-Azhar 2 Pejaten. There is an inverse relationship between sedentarylifestyle and BMI and waist circumference, and a significant relationship between peergroup support and high-calorie food consumption with BMI and waist circumference.Keywords : Adolescents, High Calorie Food Consumption, Sedentary Lifestyle, PeerGroup Support 

HUBUNGAN KONSUMSI SUGAR SWEETENED BEVERAGES TERHADAP RISIKO DIABETES MELLITUS PADA REMAJA DI WILAYAH KOTA BOGOR

By amaliarodjatuljannah@gmail.com

ABSTRAK  Diabetes mellitus merupakan penyakit tidak menular yang salah satunyadisebabkan oleh konsumsi asupan gula berlebih pada makanan atau minumanberpemanis. Remaja merupakan kelompok yang sering terpapar minuman manis.Konsumsi minuman manis pada remaja secara berlebihan dapat menyebabkan risikotinggi terkena diabetes mellitus. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubunganantara konsumsi sugar sweetened beverages terhadap risiko diabetes mellitus padaremaja. Desain penelitian yang digunakan cross sectional dengan non probabilitysampling secara purposive serta jumlah subjek yang diperlukan sebanyak 54 subjek.Data yang dikumpulkan menggunakan kuesioner dan wawancara secara langsungterkait frekuensi konsumsi SSB menggunakan beverage quesstionnaire-15, risikoterkena diabetes mellitus menggunakan kuesioner skrining type 2 diabetes risk(SFBLF) dan data status gizi didapatkan melalui pengukuran antropometri. Hasilpenelitian ini menunjukkan terdapat 42,6% remaja yang berisiko tinggi terkenadiabetes mellitus di wilayah Kota Bogor dan terdapat 44,4% remaja yang memilikikebiasaan konsumsi SSB tinggi. Analisis bivariat menggunakan uji chi-squaremenunjukkan terdapat hubungan antara konsumsi sugar sweetened beverages(p=0,018), IMT/U (p=0,045), dan lingkar pinggang (p=0,023) terhadap risiko terkenadiabetes mellitus pada remaja di wilayah Kota Bogor. Didapatkan pula nilai OR=4,583pada variabel konsumsi SSB terhadap risiko terkena diabetes mellitus sehingga remajayang mengkonsumsi SSB tinggi berpeluang 4,583 kali lebih besar berisiko tinggiterkena diabetes mellitus dibandingkan dengan yang mengkonsumsi SSB rendah.Kesimpulan penelitian ini terdapat hubungan antara tingkat frekuensi konsumsi sugarsweetened beverages dan status gizi terhadap risiko terkena diabetes mellitus padaremaja. Konsumsi SSB pada remaja di penelitian ini tergolong tinggi sehingga secaratidak langsung meningkatkan risiko terkena diabetes mellitus pada remaja.Kata kunci : Diabetes mellitus, remaja, status gizi, sugar sweetened beverages.  ABSTRACT  Diabetes mellitus is a non-communicable disease which is caused byconsuming excess sugar in sweetened foods or drinks. Teenagers are a group that isoften exposed to sweet drinks. Excessive consumption of sweet drinks in teenagers cancause a high risk of developing diabetes mellitus. The aim of this study was to analyzethe relationship between consumption of sugar sweetened beverages and the risk ofdiabetes mellitus in adolescents. The research design used was cross sectional withpurposive non-probability sampling and the number of subjects required was 54subjects. Data collected using questionnaires and interviews directly related to thefrequency of SSB consumption using the beverage questionnaire-15, the risk ofdeveloping diabetes mellitus using the type 2 diabetes risk (SFBLF) screeningquestionnaire and nutritional status data obtained through anthropometricmeasurements. The results of this study show that there are 42.6% of teenagers whoare at high risk of developing diabetes mellitus in the Bogor City area and there are44.4% of teenagers who have high SSB consumption habits. Bivariate analysis usingthe chi-square test showed that there was a relationship between consumption of sugarsweetened beverages (p=0.018), BMI/U (p=0.045), and waist circumference(p=0.023) on the risk of developing diabetes mellitus in adolescents in the Bogor Cityarea. The value of OR=4.583 was also obtained for the SSB consumption variable onthe risk of developing diabetes mellitus so that teenagers who consumed high levels ofSSB had a 4.583 times greater chance of developing diabetes mellitus compared tothose who consumed low levels of SSB. The conclusion of this study is that there is arelationship between the level of frequency of consumption of sugar sweetenedbeverages and nutritional status on the risk of developing diabetes mellitus inadolescents. SSB consumption in adolescents in this study was relatively high, whichindirectly increased the risk of developing diabetes mellitus in adolescents.Keywords: Adolescent, diabetes mellitus, nutritional status, sugar sweetenedbeverages.