Sarjana Ilmu Komunikasi
ABSTRAK Kawasan industri merupakan wilayah terpusat untuk memusatkan industri. Indus-trialisasi yang berkembang berbanding lurus dengan banyaknya limbah yang dihasilkan. Limbah yang dihasilkan beragam, seperti limbah cair B3. Limbah cair B3 yang dihasilkanberupa logam berat seperti arsen, merkuri dan kadmium karena penggunaan logam beratdalam beberapa industri sebagai bahan pokok. Ketiga jenis logam ini memilki sifat yangsama yaitu mudah larut dalam air dan teserap ke dalam tanah. Logam berat di dalam tanahakan terakumulasi oleh tanaman dan mencemari tanaman tersebut. Tujuan penelitian iniadalah untuk mengetahui berapa kandungna logam berat pada tanaman Curcuma Xanth. Metode penelitian yang digunakan yaitu eksperimental dengan instrumen Spektrofotome-ter Serapan Atom. Data yang dihasilkan berupa konsentrasi logam berat. Hasil analisiscemaran logam berat pada tanah tempat tumbuh tanaman obat Curcuma Xanth yaitu kadarArsen 36,3384 ppm; Merkuri 26,8066 ppm dan Kadmium 76,5917 ppm. Hasil analisiscemaran logam berat pada sampel Curcuma Xanth 1 yang tumbuh disekitar kawasan in-dustri, didapatkan hasil yaitu Arsen 61,6756 ppm; Merkuri 27,1925 ppm dan Kadmium67,4530 ppm. Hasil analisis cemaran logam berat pada sampel Curcuma Xanth yang tum-buh disekitaran rumah warga, didapatkan hasil yaitu tidak tercemar logam berat Arsen,Merkuri dan Kadmium. Berdasarkan hasil analisis cemaran logam berat dalam tanamanobat Curcuma Xanth, dapat di identifikasi bahwa tanaman obat Curcuma Xanth yangditanam di kawasan industri JIEP Pulogadung tercemar oleh logam berat Arsen, Merkuridan Kadmium. Kandungan logam berat pada sampel tanah masih memenuhi standar bakumutu. Kandungan logam berat pada sampel tanaman obat Curcuma Xanthorriza 1melebihi batas standar baku mutuKata Kunci : Curcuma Xanth, Industrialisasi, Limbah, Logam Berat, Tanah. Abstract Industrial estates are centralized areas to concentrate industry. Growing industri-alization is directly proportional to the amount of waste produced. The waste produced varies, such as B3 liquid waste. B3 liquid waste produced in the form of heavy metalssuch as arsenic, mercury and cadmium due to the use of heavy metals in some industriesas staples. These three types of metals have the same properties, which are easily solublein water and absorbed into the soil. Heavy metals in the soil will accumulate by plantsand contaminate these plants. The purpose of this study was to determine how much heavymetal content in Curcuma Xanth plants. The research method used is experimental withthe Atomic Absorption Spectrophotometer instrument. The resulting data is in the formof heavy metal concentrations. The results of heavy metal contamination analysis on thesoil where Curcuma Xanth medicinal plants grow, namely Arsenic levels of 36.3384 ppm; Mercury 26.8066 ppm and Cadmium 76.5917 ppm. The results of heavy metal contami-nation analysis on Curcuma Xanth 1 samples growing around industrial areas, obtained results of Arsenic 61.6756 ppm; Mercury 27.1925 ppm and Cadmium 67.4530 ppm. Theresults of heavy metal contamination analysis on Curcuma Xanth samples that growaround residents' homes, obtained results that are not contaminated with heavy metals Arsenic, Mercury and Cadmium. Based on the results of heavy metal contamination anal-ysis in Curcuma Xanth medicinal plants, it can be identified that Curcuma Xanth medic-inal plants planted in the JIEP Pulogadung industrial area are polluted by heavy metals Arsenic, Mercury and Cadmium. The heavy metal content in soil samples still meets qual-ity standards. The heavy metal content in Curcuma Xanthorriza 1 medicinal plant sam-ples exceeds the limit of quality standards Keywords: Curcuma Xanth, Industrialization, Waste, Heavy Metals, Soil.
ABSTRAKKetergantungan industri pada air bersih merupakan salah satu kendala yangdihadapi saat ini. Industri saat ini sangat berbeda dengan lima tahun lalu. Melaluisemua perubahan yang ada masalah air terus menjadi salah satu topik yang palingkompleks. Untuk menciptakan industri yang keberlanjutan, industri perlu melakukananalisis keseimbangan air untuk mengevaluasi bagaimana manajemen air yang telahditerapkan. Hasil analisis keseimbangan air dapat memberikan informasi yang sangatpenting bagi stakeholder atau berbagai pemangku kepentingan khususnya sektorindustri terutama didalam pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan sehinggaterhindar dari ancaman kekurangan pasokan air dimasa mendatang, selain itu dapatmenjadi suatu solusi yang efektif dan efisien dalam jangka waktu pendek, menengahdan panjang khususnya pada keberlanjutan bisnis atau industri.Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui nilai keseimbangan air di PT X.batasan dan cakupan dari kegiatan penelitian ini yaitu menganalisa air masuk (in)yaitu ketersediaan air dan dibandingkan dengan air keluar (out) yaitu air limbah yangdihasilkan, sehingga dapat diketahui jumlah air yang tidak teridentifikasi serta nilaikehilangan air fisik (physical water loss) berdasarkan pedoman pada GEMI (GlobalEnvironmental Management Initiative). Berdasarkan hasil penelitian menunjukanbahwa keseimbangan air (water balance) di PT X yaitu sebesar 26,38 % dimana nilaitersebut melebihi dari persentase yang dipersyaratkan yaitu sebesar 10% sehinggaperlu dilakukan investigasi lebih dalam.Kata kunci: Air Bersih, Manajemen Air, Keseimbangan Air, Kehilangan Air FisikABSTRACTThe industry's dependence on clean water is one of the obstacles faced today.The industry today is very different from five years ago. Through all the changesthat exist, the issue of water continues to be one of the most complex topics. To createa sustainable industry, the industry needs to conduct a water balance analysis toevaluate how water management has been implemented. The results of the waterbalance analysis can provide very important information for stakeholders or variousstakeholders, especially in the industrial sector, especially in the sustainablemanagement of water resources so as to avoid the threat of water supply shortagesin the future, besides that it can be an effective and efficient solution in the short,medium and long term, especially in business or industrial sustainability.The purpose of this study is to find out the value of water balance in PT X. Thelimitations and scope of this research activity are to analyze the water in (in), whichis the availability of water, and compared to the water out (out), which is thewastewater produced, so that the amount of water that is not identified and the valueof physical water loss can be known based on the guidelines in GEMI (GlobalEnvironment Management Initiative). Based on the results of the study, it shows thatthe water balance at PT X is 26.38 % where the value exceeds the requiredpercentage of 10%, so it is necessary to conduct a deeper investigation.Keywords: Clean Water, Water Management, Water Balance, Physical Water Loss
ABSTRAKAktivitas pengambilan daging kerang hijau oleh industri pengolahan kerang hijaumenghasilkan cangkang kerang hijau yang jumlahnya mencapai sekitar 30-40%dari total berat kerang hijau. Limbah cangkang kerang hijau mengandung berbagaisenyawa kimia, diantaranya protein 21,9%, mineral (CaCO3) 7,88% dan Kitin 14-35%. Kitin dapat diproses lebih lanjut untuk menghasilkan kitosan yang memilikimanfaat di berbagai bidang, salah satunya sebagai biokoagulan. Tujuan daripenelitian ini adalah untuk mengetahui potensi kitin dari cangkang kerang hijaumelalui uji karakteristik pH, Kadar Air, Kadar Abu dan Derajat Deasetilasi sertakemampuannya sebagai biokoagulan dengan menentukan dosis optimummenggunakan cara koagulasi-flokulasi (jar test). Percobaan ini menggunakanserbuk cangkang kerang hijau sebagai biokoagulan dengan sampel air tanah yangdiduga tercemar kesadahan yang berasal dari Perumahan Kavling Kabelmas BekasiUtara. Hasil yang diperoleh dari uji karakteristik biokoagulan yaitu pH 7,11; kadarair 0,49%; kadar abu 0,52%; dan derajat deasetilasi 98,26%. Sedangkan hasil yangdiperoleh dari Uji Signifikasi ANOVA Dua Arah untuk pengujian pH, Kekeruhan,dan Kandungan Organik dinyatakan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima. Artinya adaperbedaan signifikan pada variasi waktu pengendapan. Sedangkan untuk pengujianKesadahan Total dinyatakan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima, maka adaperbedaan signifkan pada variasi waktu pengendapan dan variasi konsentrasibiokoagulan yang ditambahkan ke dalam sampel.Kata Kunci: Kerang Hijau, Kitin, Biokoagulan, Koagulasi-FlokulasiABSTRACTThe activity of taking green mussel meat by the green mussel processing industryproduces green mussel shells which amount to about 30-40% of the total weight ofgreen mussels. Green clam shell waste contains various chemical compounds,including protein 21,9%, minerals (CaCO3) 7.88% and Chitin 14-35%. Chitin canbe further processed to produce chitosan which has benefits in various fields, oneof which is as a biocoagulant. The purpose of this study was to determine thepotential of chitin from green clam shells through testing the characteristics of pH,Water Content, Ash Content and Deacetylation Degree as well as its ability as abiocoagulant by determining the optimum dose using coagulation-flocculation (jartest). This experiment used green clam shell powder as a biocoagulant with pollutedgroundwater samples suspected of being contaminated with hardness from theNorth Bekasi Kabelmas Plot Housing. The results obtained from the biocoagulantcharacteristic test are pH 7,11; moisture content 0,49%; ash content 0,52%; and adegree of deacetylation of 98,26%. Meanwhile, the results obtained from the TwoWay ANOVA Significance Test for testing pH, Turbidity, and Organic Contentstated that H0 was rejected and H1 was accepted. This means that there is asignificant difference in the variation of deposition time. Whereas for the TotalHardness test it was stated that H0 was rejected and H1 was accepted, so there wasa significant difference in the variation of settling time and the variation in theconcentration of the biocoagulant added to the sample.Keywords: Green mussel, Chitin, Biocoagulant, Koagulasi-Flocculation
ABSTRAKBelum adanya cara pemanfaatan limbah Pb Foil mengakibatkan penumpukanlimbah Pb Foil di laboratorium LM sebanyak 21,7 kg pada tahun 2021 sertamengacu pada PerMen LHK NOMOR P.12/MENLHK/SETJEN/PLB.3/5/2020Tentang Penyimpanan Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun serta datapenggunaan bahan kimia di Laboratorium LM maka perlu adanya pengolahanlimbah Pb Foil di Laboratorium LM dengan tujuan tidak adanya limbah Pb Foilyang menumpuk melebihi 365 hari. Penelitian dengan judul “Menurunkan JumlahLimbah Pb Foil Dengan Cara Recycle Limbah Pb Foil Pada Metode Fire Assay DiLaboratorium PT.Antam Tbk. UBPP Logam Mulia”, memiliki rumusan masalahbagaimana fungsi Pb Foil pada proses analisis metode Fire Assay di LM,bagaimana proses recycle limbah Pb Foil dan berapa besar Pb Foil hasil recycledapat digunakan kembali untuk analisis. Penelitian ini menggunakan metodepenelitian experimental dengan melakukan investigasi dari suatu masalahkemudian membuat desain untuk pemecahan masalah dan meminimalisir ataumenghilangkan penyebab masalah (kejadian). Setelah melakukan beberapapercobaan didapatkan hasil diantaranya (1) Pb Foil merupakan timbal yangberbentuk lembaran yang didalamnya terkandung logam Pb sebesar 99,95%. (2)Dalam proses recycle ada beberapa standar yang dijadikan acuan diantaranya :berat setiap peleburan Pb Foil maksimal 600 ± 10 gram, waktu peleburan 30 detik,ketebalan Pb kurang dari 10 mm, kandungan Pb dalam Pb Foil recycle diatas 90 %dan tidak ada kandungan emas dan perak didalamnya (3) Kemampuan prosesrecycle Pb foil adalah 95,19%. Dari 21,7 kg Pb Foil yang tidak digunakan dapat direcycle sebanyak 20,66 kg dan sisa 1,04 kg akan dilebur kembali pada prosesrecycle berikutnya.Kata Kunci : Pb Foil, Recycle, Experimental, Fire Assay.ABSTRACTThe absence of a way to utilize Pb Foil waste has resulted in the accumulation ofPb Foil waste in the LM laboratory as much as 21.7 kg in 2021 and refers to thePerMen LHK NOMOR P.12/MENLHK/SETJEN/PLB.3/5/2020 concerning StorageHazardous and Toxic Waste and data on the use of chemicals in the LM Laboratory.it is necessary to treat Pb Foil waste at the LM Laboratory with the aim of nothaving Pb Foil waste that accumulates for more than 365 days. The researchentitled "Reducing the Amount of Pb Foil Waste By Recycling Pb Foil Waste InFire Assay Method At PT.Antam Tbk. UBPP Logam Mulia Laboratory”, has aproblem formulation of how the Pb Foil function in the Fire Assay method analysisprocess in LM, how to recycle Pb Foil waste and how much Pb Foil can be reusedfor analysis. This study uses experimental research methods with investigating aproblem then making a design for solving the problem and minimizing oreliminating the cause of the problem (event). After conducting several experiments,the results obtained include (1) Pb Foil is a sheet-shaped lead which contains99,95% Pb metal. (2) In the recycling process, several standards are used asreferences including: the maximum weight of each melting of Pb Foil is 600 ± 10grams, smelting time is 30 seconds, Pb thickness is less than 10 mm, Pb content inPb Foil recycle is above 90% and there is no content. gold and silver in it (3) Theability to recycle Pb foil is 95.19%. Of the 21.7 kg of unused Pb Foil, 20.66 kg canbe recycled and the remaining 1.04 kg will be melted down in the next recyclingprocess.Keywords: Pb Foil, Recycle, Experimental, Fire Assay.
ABSTRAK Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN)Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), volume timbulansampah di Indonesia pada tahun 2022 mencapai 36,22 juta ton. Sampah plastikmenempati posisi kedua setelah sampah organik dari sumber timbulan sampahdengan proporsi jumlah sampah plastik di Indonesia sebesar 18,1% atau sekitar6,55 juta ton sampah plastik. Tujuan penelitian ini, agar mengetahui jenis mutubata plastik komposit yang dihasilkan dan dapat menjadi produk yang ramahlingkungan. Jenis penelitian ini merupakan eksperimental skala laboratoriumdengan menggunakan metode deskriptif kuantitatif, analisis data menggunakanRancangan Acak Lengkap (RAL), dan uji lanjut Beda Nyata Terkecil / LeastSignificant Difference (LSD). Presentase komposisi rasio fly ash terhadap limbahmultilayer packaging yang digunakan dalam penelitian ini adalah bata plastikkomposit 1 (0%), bata plastik komposit 2 (10%), bata plastik komposit 3 (20%),bata plastik komposit 4 (30%), bata plastik komposit 5 (40%) dan bata plastikkomposit 6 (50%). Pengujian densitas, kekerasan, kuat tekan dan daya serap airdilakukan setelah umur 24 jam. Hasil pengujian bata plastik komposit tertinggipada variasi fly ash 50% berat nilai densitas tertinggi bata plastik komposit sebesar1,5109 g/cm3 . Hasil pengujian kekerasan tertinggi bata plastik komposit 6 (50%)sebesar 61,4. Hasil penelitian pengujian kuat tekan didapat nilai rata-rata tertinggipada variasi bata plastik komposit 6 (50%) sebesar 22,8430 MPa. Hasil pengujiandaya serap air didapat nilai rata-rata terbaik pada variasi bata plastik komposit 6(50%) sebesar 0,15%. Hasil Rancangan Acak Lengkap (RAL) densitas,kekerasan, kuat tekan dan daya serap air (F Hitung > F Tabel) sehinggaperlakuan berpengaruh signifikan dan hasil uji Beda Nyata Terkecil / LeastSignificant Difference (LSD) densitas, kekerasan, kuat tekan dan daya serap airdiperoleh hasil optimal pada interaksi komposisi bata plastik komposit MLP50%, FA 50%. Kata Kunci: Bata Plastik Komposit, Kuat Tekan, Densitas, Fly Ash, kekerasan,Limbah Multilayer Packaging, Daya Serap Air. ABSTRACT Based on data from the Ministry of Environment and Forestry's National WasteManagement Information System (SIPSN), the volume of waste generated inIndonesia in 2022 will reach 36,22 million tons. Plastic waste occupies the secondposition after organic waste from sources of waste generation with a proportion oftotal plastic waste in Indonesia of 18,1% or around 6,55 million tons of plasticwaste. The purpose of this study was to determine the type of quality of thecomposite bricks produced and it can also be an environmentally friendly product.This type of research is an experimental laboratory scale using quantitativedescriptive methods, data analysis using Rancangan Acak Lengkap or CompletelyRandomized Design (RAL) and further testing Least Significant Difference (LSD).The percentage composition used in this research is composite plastic bricks 1(0%), composite plastic bricks 2 (10%), composite plastic bricks 3 (20%),composite plastic bricks 4 (30%), composite plastic bricks 5 (40%), and compositeplastic bricks 6 (50%). Tests for density, hardness, compressive strength and waterabsorption were carried out after 24 hour of age. The highest average value in thevariation of composite plastic bricks (50%). The results of the research on density1,5109 g/cm3 composite plastic bricks 50%. The results of the research on hardness6,14. The results of the research on compressive strength testing obtained thehighest average value in the variation of composite plastic bricks (50%) of 22,8430MPa. The results of the water absorption test obtained the best average value onthe variation of composite plastic bricks (50%) of 0,15%. The results of theCompletely Randomized Design (RAL) for hardness, density, compressive strengthand water absorption (F Count > F Table) so that the treatment had a significanteffect and the results of the Least Significant Difference (LSD) test for density,hardness, compressive strength and water absorption obtained optimal results onthe interaction of composite bricks MLP 50%, FA 50%.Key Words: Composite Plastic Bricks, Compressive Strength, Density, Fly Ash, Multilayer Packaging Waste, Water Absorption.
ABSTRAKWorkshop memiliki potensi bahaya yang tinggi sehingga dapatmembahayakan keselamatan pekerja yang menunaikan tugas, melakukan pekerjaandidalam ruang terbatas diperlukan upaya pencegahan untuk menghindari terjadinyakecelakaan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui bagaimana penerapanmanajemen risiko K3 pada pekerjaan di area Workshop dan juga mengidentifikasipotensi bahaya dan melakukan pengendalian resiko bahaya yang mungkin terjadidi area Workshop. Jenis desain penelitian yang digunakan adalah penelitiandeskriptif dengan teknik analisis kualitatif dengan menggunakan data primer yangdiperoleh dari hasil wawancara dan kuesinoer dengan 8 orang karyawan sebagairesponden. Dari hasil penelitian identifikasi yang dilakukan di PT. MSSmenggunakan metode Hazard Identification Risk Assesment and Risk Control padaarea Workshop terdapat 42 total potensi bahaya yang terdiri dari 32 resiko yangmeyangkut bahaya keselamatan dan 10 resiko bahaya kesehatan dengan terdapat28 potensi bahaya dengan kategori rendah, 13 potensi bahaya kategori sedang, dan1 potensi bahaya kategori tinggi. Pengendalian tambahan dilakukan pada potensibahaya adanya percikan api pada saat proses pengelasan dan juga cutting whellyaitu dengan cara penerapan 5R dan juga menyediakan lemari khusus untyk bahanyang mudah terbakar. Saran: penerapan 5R pada saat bekerja, memberikankesempatan kepada pekerja untuk mendapat pelatihan mengenai K3 dan jugamenyediakan pekerja yang khusus yang bertanggung jawab untuk merapikanbarang dan peralatan kerja.Kata kunci: Workshop, HIRARC, Risiko, BahayaABSTRACTWorkshops have a high potential for danger so that they can endanger the safety ofworkers carrying out their duties. Carrying out work in a confined space requirespreventive measures to avoid accidents. The aim of this research is to find out howK3 risk management is implemented in work in the Workshop area and also toidentify potential hazards and control the risks of hazards that may occur in theWorkshop area. The type of research design used is descriptive research withqualitative analysis techniques using primary data obtained from interviews andquestionnaires with 8 employees as respondents. From the results of identificationresearch conducted at PT. MSS uses the Hazard Identification Risk Assessment andRisk Control method in the Workshop area, there are 42 total potential hazardsconsisting of 32 risks involving safety hazards and 10 health hazard risks with 28potential hazards in the low category, 13 potential hazards in the medium category,and 1 potential high category danger. Additional control is carried out on thepotential danger of sparks during the welding process and also cutting wheels,namely by implementing 5R and also providing special cabinets for flammablematerials. Suggestion: apply 5R at work, provide opportunities for workers toreceive training regarding K3 and also provide special workers who areresponsible for tidying up work items and equipment.Keywors: Workshop, HIRARC, Risk, Hazard
ABSTRAKAir limbah domestik umumnya yang berasal dari suatu kegiatan komersial atauPerumahan, Restoran, Kantor, Apartemen dan asrama biasanya dihasilkan darikegiatan manusia. Pada awalnya, air limbah di Jakarta hanya dibuang langsung kesungai atau saluran air tanpa pengolahan terlebih dahulu. Hal ini disebabkan karenamasih minimnya fasilitas pengolahan air buangan kota (sewerage system), sehinggamengakibatkan tercemarnya badan-badan sungai (Said, 2020). Glodok PlazaJakarta berada di wilayah komersial dan merupakan pusat perbelanjaan yangterletak di daerah Jakarta Barat sehingga merupakan salah satu tempat penghasil airlimbah domestik yang cukup besar. Air limbah domestik yang ada di Glodok Plazabersumber dari toilet atau wastafel cuci tangan, hotel dari kamar mandi dan dapurmakanan, serta Food Court dari dapur makanan yang kemudian air limbah tersebutdiolah agar hasil buangan tidak mencemari lingkungan. Pada bulan Januari 2023parameter amonia memiliki nilai sebesar 9 mg/l berdasarkan hasil tersebut yangmendekati baku mutu sebesar 10 mg/l menurut Permen LHK No. 68 Tahun 2016tentang air limbah domestik. Hal ini dikhawatirkan untuk pengolahan kedepan nyaIPAL tersebut tidak dapat mengolah parameter amonia sesuai baku mutu yangditetapkan menurut Permen LHK No. 68 Tahun 2016. Permasalahan dalampenelitian ini adalah di Glodok Plaza Jakarta belum pernah dilakukan pengujianInlet pada air limbah domestik dan hanya di lakukan pengujian Outlet. Sehinggabelum bisa diketahui berapa persen efisiensi penyisihan parameter pada pengolahanair limbah domestik. Pada penelitian ini parameter yang akan diuji terdapat 7parameter yaitu pH, BOD, COD, amonia, TSS, Total Coliform, Minyak dan Lemaksesuai dengan baku mutu Permen LHK No. 68 Tahun 2016 tentang air limbahdomestik. Dari hasil pengujian yang dilakukan di Laboratorium Universitas SahidJakarta hasil analisis parameter yang didapatkan semua sudah memenuhi baku mutudan efisiensi pengolahan air limbah pada setiap parameternya masuk ke dalamkategori efisien dan sangat efisien, diantaranya untuk parameter BOD memilikinilai 74,24%, COD memiliki nilai 91,57%, Amonia memiliki 98,14%, Minyak danLemak memiliki nilai 93,69%, Total Coliform memiliki nilai 98,58%, dan TSSmemiliki nilai 91,39%.Kata Kunci : Pengolahan Air Limbah Domestik, Alur Pengolahan IPAL Domestik,Efisiensi IPAL Domestik, Uji Inlet dan Outlet Air Limbah Domestik,Pusat Perbelanjaan.ABSTRACTDomestic wastewater generally derived from commercial activity or housing,restaurants, offices, apartments, and hostels is generally produced from humanactivities. Initially, Jakarta's sewage was only discharged directly into rivers orwaterways without prior treatment. This is because the sewerage system is still low,causing the river bodies to be contaminated. (Said, 2020). The Glodok PlazaJakarta is located in a commercial area and is a shopping center located in theWest Jakarta region, making it one of the major domestic wastewater generators.The domestic wastewater at Glodok Plaza comes from the toilet or laundry room,the hotel from the bathroom and dining kitchen, and the Food Court from the foodkitchen where the wastewater is then treated so that the wastewater does not pollutethe environment. As of January 2023, the ammonia parameter has a value of 9 mg/lbased on such results which is close to the quality standard of 10 mg/L accordingto Permen LHK No. 68 of 2016 on domestic wastewater. It is concerned for itsfuture processing the IPAL cannot process ammonia parameters in accordancewith the quality standards established according to Permen LHK No. 68 Year 2016.The problem with this study is that at Glodok Plaza Jakarta we have not performedan Inlet test on domestic wastewater and only an Outlet test. So it has not beenknown how much the efficiency of the parameter separation on the domestic sewagetreatment is. In this study, the parameters to be tested are 7 parameters namely pH,BOD, COD, ammonia, TSS, Total Coliform, Oils and Fats in accordance with thestandard quality Permen LHK No. 68 Year 2016 on domestic wastewater. From theresults of the testing carried out at the University of Sahid Jakarta Laboratory, theparameter analysis results obtained all already meet the standard quality andefficiency of wastewater treatment on each parameter falls into the category ofefficient and highly efficient, among them for the parameters BOD has a value of74.24%, COD has the value of 91,57%, Ammonia has 98.14%, Oil and Fats has arating of 93.69%, Total Coliform has a score of 98.58%, and TSS has a rate of91.39%.Keywords : Domestic Wastewater Treatment, Domestic IPAL Treatment Pipeline,Home IPAL Efficiency, Inlet and Home Waste Water Outlet Testing,Shopping Center.
ABSTRAKMARTINUS EMILE ZOLA MANURUNG. Analisis Kemampuan RuangTerbuka Hijau dalam Mereduksi Konsentrasi CO2 di Kantor Walikota Bekasi.Dibimbing oleh Dr. Ninin Gusdini, MT. dan PS. Dyah Prinajati, ST. MT.Perkembangan pembangunan perkotaan berdampak terhadap perubahanpemanfaatan ruang, baik direncanakan maupun tidak direncanakan. Perubahanfungsi penggunaan lahan yang terjadi pada umumnya hanya mempertimbangkanfaktor ekonomi sehingga sering menimbulkan fenomena permasalahan lingkungan.Perkembangan dan pembangunan Kota Bekasi, baik kegiatan pemerintahan,pemukiman, industri serta perdagangan dan jasa sering kali mengabaikanpenyediaan ruang terbuka hijau. Ruang terbuka hijau (RTH) di wilayah perkotaanmerupakan bagian dari penataan ruang kota yang berfungsi sebagai kawasan hijaupertamanan kota, kawasan hijau hutan kota, kawasan hijau rekreasi kota, kawasanhijau kegiatan olahraga dan kawasan hijau pekarangan. Kawasan perkantoranWalikota Bekasi memiliki ruang terbuka hijau seluas 47.967 M2 berperan sebagaipenghasil oksigen, penyerapan karbon dioksida (CO2), peredam kebisingan danpenambah estetika suatu bangunan sehingga tampak asri, memberikankeseimbangan serta keserasian antara bangunan dan lingkungan.Emisi karbon dioksida dihitung dari jumlah kendaraan yang masuk dankeluar kantor Walikota Bekasi dan pemeliharaan mesin genset. Total emisi karbondioksida yang dihasilkan di kantor Walikota Bekasi sebesar 45,898 ton/tahun.Emisi karbon dioksida dari kendaraan sebesar 45,738 ton/tahun dan dari mesingenset sebesar 0,16 ton/tahun. Daya serap emisi karbon dioksida oleh tanamandihitung dengan pendekatan tipe tutupan vegetasi yaitu pohon dan rumput. Dayaserap karbon dioksida keseluruhan adalah sebesar 2.419,58 ton/tahun, yang terdiriatas daya serap oleh pohon sebesar 2.412,86 ton/tahun dan rumput sebesar 6,72ton/tahun. Dengan demikian ruang terbuka hijau Kantor Walikota Bekasi dapatmenyerap seluruh emisi karbon dioksida yang dihasilkan.Kata kunci: Daya serap CO2, Emisi CO2, Kantor Walikota Bekasi.ABSTRACTMARTINUS EMILE ZOLA MANURUNG. Analysis of Green Open Space’sAbility in Reducing CO2 Concentration in Bekasi Mayor’s Office. Supervised byDr. Ninin Gusdini, MT. and PS. Dyah Prinajati, ST. MT.The Urban Development impacts the change in spatial utilization, whetherplanned or unplanned. Generally, the changes in land use function only considereconomic factors that often cause phenomena of environmental problems. Theconstruction and development of Bekasi City, whether government activities,residential, industrial as well as trade and services often ignore the provision ofgreen open space. Green Open Space in urban areas is part of urban spatial planthat has functions as a green garden, green forest area, green recreation area,green sport area and green yard area. Bekasi Mayor’s Office area Has 47.967 m2of green open space which acts as an oxygen producer, carbon dioxide absorber,noise reduction and aesthetic enhancer of a building to be looked beautiful,providing balance and harmony between buildings and environment.Carbon dioxide emissions are calculated from the number of vehicles thatentering and leaving Bekasi Mayor’s Office and the maintenance of generatorengines. Total of carbon dioxide emissions generated at Bekasi Mayor’s Office are45,898 tons/year. Carbon dioxide emissions from vehicles are 45,738 tons/year andfrom generator engines are 0,16 tons/year. The absorption capacity of carbondioxide emission by plants is calculated based on the type of vegetation cover treesand grass. The overall absorption of carbon dioxide is 2.419,58 tons/year, whichconsists trees absorption capacity is 2.412,86 tons/year and grass absorptioncapacity is 6,72 tons/year. Thus the green open space of Bekasi Mayor’s Office canabsorb all carbon dioxide emissions.Keyword: CO2 absorption, CO2 Emissions, Bekasi Mayor’s Office.
ABSTRAK Penghematan energi listrik harus dilakukan untuk mengatasi permasalahan krisis energi. Penghematan energi listrik dapat dilakukan dengan melakukan efisiensi konsumsi energi. Efisiensi konsumsi bertujuan untuk mengetahui profil penggunaan energi suatu bangunan gedung dan mencari upaya peningkatan efisiensi penggunaan energi tanpa mengurangi tingkat kenyamanan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui profil beban energi pada Stasiun Gas Muara Bekasi PT Perusahaan Gas Negara Tbk, mengukur konsumsi energi listrik pada Stasiun Gas Muara Bekasi PT Perusahaan Gas Negara Tbk serta mengetahui besaran penghematan biaya efisiensi konsumsi energi yang bisa dihemat dengan mereduksi gas rumah kaca dan aktivitas apa yang dilakukan untuk mereduksi gas rumah kaca di PT Perusahaan Gas Negara Tbk. Metode penelitian yang digunakan bersifat deskriptif, dengan teknik pengumpulan data menggunakan studi lapangan, metode assesmen energi, pelaksanaan pengumpulan data menggunakan audit energi awal dan audit energi rinci. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efisiensi konsumsi energi dilakukan di seluruh area stasiun gas muara Bekasi yaitu di raungkan kontrol yang meliputi control room, IT Room, Battery Room dan Electrical room ber-AC dengan jenis lampu TL LED dan CFL yang dioperasikan 24 jam/hari. Hasil pengukuran penggunaan energi pada periode bulan Januari 2021 sampai dengan Juni 2021 diperoleh hasil terdapat 5 ruangan sudah memenuhi Standard SNI 6197-2011 serta ada 4 ruangan masih belum memenuhi standar Standard SNI 6197-2011. Pencahayaan di Stasiun Gas Muara Bekasi PT. Perusahaan Gas Negara Tbk diperoleh pencahayaan yang kuat di 8 ruangan, intensitas daya AC pada Stasiun Gas Muara Bekasi PT. Perusahaan Gas Negara Tbk dari 6 ruangan yang terpasang AC hanya 1 ruangan yang memenuhi baik secara temperatur maupun kelembaban. Intensitas Konsumsi Energi Listrik (IKE) pada Stasiun Gas Muara Bekasi PT. Perusahaan Gas Negara. Tbk sesuai dengan Standar Intensitas Daya Pencahayaan dan Kuat Pencahayaan berdasarkan Standar SNI 6197-2011. Hasil audit yang dilakukan menghasilkan reduksi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 3.024 Kg CO2/hari atau 786.24 Kg CO2/tahun lampu dari Sodium 250 Watt ke LED 150 Watt. Pergantian lampu Sonte 400 Watt dengan LED 280 Watt menghasilkan reduksi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 5.6448 Kg CO2/hari atau 1467.64 Kg CO2/tahun. Penggunaan AC dengan merubah temperatur AC dari temperatur 230C ke 240C yang menghasilkan reduksi Gas Rumah Kaca (GRK) 281.736 Kg CO2/hari atau 73251,36 Kg CO2. Kata Kunci: Efisiensi, Konsumsi Energi, Gas Rumah Kaca ABSTRACT Electrical energy savings must be made to overcome the energy crisis problem. Saving electrical energy can be done by making energy consumption efficient. Consumption efficiency aims to determine the energy use profile of a building and seek efforts to increase the efficiency of energy use without reducing the level of comfort. The aim of this research is to determine the energy load profile at the Muara Bekasi Gas Station PT Perusahaan Gas Negara Tbk, measure electrical energy consumption at the Muara Bekasi Gas Station PT Perusahaan Gas Negara Tbk and determine the amount of energy consumption efficiency cost savings that can be saved by reducing greenhouse gases and what activities are carried out to reduce greenhouse gases at PT Perusahaan Gas Negara Tbk. The research method used is descriptive, with data collection techniques using field studies, energy assessment methods, data collection implementation using initial energy audits and detailed energy audits. The results of the research show that efficient energy consumption is carried out in the entire Muara Bekasi gas station area, which includes controls that include:control room, IT Room, Battery Room andElectrical room Air-conditioned with LED and CFL TL lamps operated 24 hours/day. The results of measuring energy use in the period January 2021 to June 2021 showed that 5 rooms had met the SNI 6197-2011 Standard and 4 rooms had not yet met the SNI 6197-2011 Standard. Lighting at Muara Bekasi Gas Station PT. Perusahaan Gas Negara Tbk obtained strong lighting in 8 rooms, AC power intensity at the Muara Bekasi PT Gas Station. Perusahaan Gas Negara Tbk, of the 6 rooms that have AC installed, only 1 room meets both temperature and humidity. Electrical Energy Consumption Intensity (IKE) at Muara Bekasi Gas Station PT. National gas Company. Tbk in accordance with the Lighting Power Intensity and Lighting Strength Standards based on SNI 6197-2011 Standards. The results of the audit carried out resulted in a reduction in Green House Gases (GHG) of 3,024 Kg CO2/day or 786.24 Kg CO2/light year from Sodium 250 Watt the LED 150Watt. Changing lightsTONIGHT 400 Watt with 280 LEDsWatt resulting in a Green House Gas (GHG) reduction of 5,6448 Kg CO2/day or 1467.64 Kg CO2/year. Use AC by changing the AC temperature from temperature 230C ke 240C which results in a reduction in Green House Gases (GHG) of 281,736 Kg CO2/day or 73251,36 Kg CO2. Keywords: Efficiency, Energy Consumption, Greenhouse Gases
ABSTRAKPT ABC bergerak di bidang industri manufaktur memproduksi herbisida selektifsediaan cair. PT ABC memiliki dua bagian dalam departemen produksi yaitubagian formulasi dan repack. Permasalahan yang sering terjadi adalah prosesrepack herbisida kemasan 40 mL mengalami kehilangan herbisida dan pelaporanoutput WIP setiap akhir shift tidak direkam secara baik oleh operator. Sejak bulanJanuari sampai Juni 2023 terjadi kehilangan herbisida sebanyak 249 liter atau1,42% dimana ini melebihi batas maksimal kehilangan herbisida sebesar 1%.Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi waste pada proses repackherbisida kemasan 40 mL beserta faktor penyebab terjadinya, serta usulanperbaikan dengan menggunakan pendekatan Lean Manufacturing. Penelitiandiawali dengan pengumpulan data, seperti alur proses, waktu prores, observasidan wawancara Brainstroming. Selanjutnya dilakukan pemetaan aliran ptosesmenggunakan Value Stream Mapping (VSM) dan Process Activity Mapping(PAM). Lalu dilakukan identifikasi waste dan faktor penyebabnya menggunakandiagram fishbone. Setelah diketahui waste dan penyebabnya, dibuatkan usulanperbaikan guna meminimasi waste. Jenis waste yang teridentifikasi adalahpenggunaan bahan baku berlebih dan proses tidak tepat (inappropriateprocessing) dengan faktor penyebab utama tercecernya herbisida saat prosestransfer ke hopper akibat penggunaan handpump dan kesalahan hitung saaatproses menghitung WIP yang dilakukan secara manual. Lalu diberikan usulanperbaikan mengganti drum dengan IBC yang diberikan dudukan serta adaptorkeran sesuai desain, pengadaan sensor hitung otomatis, pengadaan papan untukpenyusunan WIP, serta APD, pelatihan dan sosialisasi SOP untuk menunjangkinerja operator.Kata kunci: herbisida, repack, lean manufacturing, value stream mapping,process activity mapping, fishboneABSTRACTPT ABC is engaged in the manufacturing industry producing liquid selectiveherbicides. PT ABC has two sections in the production department, namely theformulation and repack sections. The problem that often occurs is that the processof repacking 40 mL herbicide packages experiences loss of herbicide and the WIPoutput reporting at the end of each shift is not recorded properly by the operator.From January to June 2023 there was a herbicide loss of 249 liters or 1.42%,which exceeds the maximum herbicide loss limit of 1%. This research aims toidentify waste in the 40 mL herbicide repack process along with the factorscausing it, as well as suggestions for improvements using the Lean Manufacturingapproach. The research began with data collection, such as process flow, processtime, observation and brainstorming interviews. Next, process flow mapping iscarried out using Value Stream Mapping (VSM) and Process Activity Mapping(PAM). Then identify waste and its causal factors using a fishbone diagram. Afterknowing the waste and its causes, proposals for improvement are made tominimize waste. The type of waste identified is the use of excess raw materials andinappropriate processing, with the main factors being the spillage of herbicideduring the transfer process to the hopper due to the use of a handpump andcalculation errors during the manual WIP calculation process. Thenrecommendations for improvements were given to replace the drum with an IBCwhich was provided with a stand and tap adapter according to the design,procurement of automatic counting sensors, procurement of boards for preparingWIP, as well as PPE, training and dissemination of SOPs to support operatorperformance.Keywords: herbicide, repack, lean manufacturing, value stream mapping, processactivity mapping, fishbone