ABSTRAK
MARTINUS EMILE ZOLA MANURUNG. Analisis Kemampuan Ruang
Terbuka Hijau dalam Mereduksi Konsentrasi CO2 di Kantor Walikota Bekasi.
Dibimbing oleh Dr. Ninin Gusdini, MT. dan PS. Dyah Prinajati, ST. MT.
Perkembangan pembangunan perkotaan berdampak terhadap perubahan
pemanfaatan ruang, baik direncanakan maupun tidak direncanakan. Perubahan
fungsi penggunaan lahan yang terjadi pada umumnya hanya mempertimbangkan
faktor ekonomi sehingga sering menimbulkan fenomena permasalahan lingkungan.
Perkembangan dan pembangunan Kota Bekasi, baik kegiatan pemerintahan,
pemukiman, industri serta perdagangan dan jasa sering kali mengabaikan
penyediaan ruang terbuka hijau. Ruang terbuka hijau (RTH) di wilayah perkotaan
merupakan bagian dari penataan ruang kota yang berfungsi sebagai kawasan hijau
pertamanan kota, kawasan hijau hutan kota, kawasan hijau rekreasi kota, kawasan
hijau kegiatan olahraga dan kawasan hijau pekarangan. Kawasan perkantoran
Walikota Bekasi memiliki ruang terbuka hijau seluas 47.967 M2 berperan sebagai
penghasil oksigen, penyerapan karbon dioksida (CO2), peredam kebisingan dan
penambah estetika suatu bangunan sehingga tampak asri, memberikan
keseimbangan serta keserasian antara bangunan dan lingkungan.
Emisi karbon dioksida dihitung dari jumlah kendaraan yang masuk dan
keluar kantor Walikota Bekasi dan pemeliharaan mesin genset. Total emisi karbon
dioksida yang dihasilkan di kantor Walikota Bekasi sebesar 45,898 ton/tahun.
Emisi karbon dioksida dari kendaraan sebesar 45,738 ton/tahun dan dari mesin
genset sebesar 0,16 ton/tahun. Daya serap emisi karbon dioksida oleh tanaman
dihitung dengan pendekatan tipe tutupan vegetasi yaitu pohon dan rumput. Daya
serap karbon dioksida keseluruhan adalah sebesar 2.419,58 ton/tahun, yang terdiri
atas daya serap oleh pohon sebesar 2.412,86 ton/tahun dan rumput sebesar 6,72
ton/tahun. Dengan demikian ruang terbuka hijau Kantor Walikota Bekasi dapat
menyerap seluruh emisi karbon dioksida yang dihasilkan.
Kata kunci: Daya serap CO2, Emisi CO2, Kantor Walikota Bekasi.
ABSTRACT
MARTINUS EMILE ZOLA MANURUNG. Analysis of Green Open Space’s
Ability in Reducing CO2 Concentration in Bekasi Mayor’s Office. Supervised by
Dr. Ninin Gusdini, MT. and PS. Dyah Prinajati, ST. MT.
The Urban Development impacts the change in spatial utilization, whether
planned or unplanned. Generally, the changes in land use function only consider
economic factors that often cause phenomena of environmental problems. The
construction and development of Bekasi City, whether government activities,
residential, industrial as well as trade and services often ignore the provision of
green open space. Green Open Space in urban areas is part of urban spatial plan
that has functions as a green garden, green forest area, green recreation area,
green sport area and green yard area. Bekasi Mayor’s Office area Has 47.967 m2
of green open space which acts as an oxygen producer, carbon dioxide absorber,
noise reduction and aesthetic enhancer of a building to be looked beautiful,
providing balance and harmony between buildings and environment.
Carbon dioxide emissions are calculated from the number of vehicles that
entering and leaving Bekasi Mayor’s Office and the maintenance of generator
engines. Total of carbon dioxide emissions generated at Bekasi Mayor’s Office are
45,898 tons/year. Carbon dioxide emissions from vehicles are 45,738 tons/year and
from generator engines are 0,16 tons/year. The absorption capacity of carbon
dioxide emission by plants is calculated based on the type of vegetation cover trees
and grass. The overall absorption of carbon dioxide is 2.419,58 tons/year, which
consists trees absorption capacity is 2.412,86 tons/year and grass absorption
capacity is 6,72 tons/year. Thus the green open space of Bekasi Mayor’s Office can
absorb all carbon dioxide emissions.
Keyword: CO2 absorption, CO2 Emissions, Bekasi Mayor’s Office.