ABSTRAK (IV BAB + 49 Hal + 1 Tabel + 14 Gambar + Lampiran + 23 Daftar Pustaka) Film pendek "Kembali" mengisahkan tentang kesedihan seorang istri yang kehilangansuaminya akibat gaya hidup yang tidak sehat, meskipun mereka baru menikah dalamwaktu singkat. Melalui sebuah tempat ajaib, sang istri diberikan kesempatan untukkembali ke masa lalu dan mengubah keputusan yang akan ia sesali di kemudian hari.Film ini dibuat dengan tujuan memberikan edukasi dan meningkatkan kesadarantentang pentingnya menerapkan pola hidup sehat sejak dini. Tujuan dari penulisan iniadalah bagaimana peran editor dalam film pendek “KEMBALI”. Editor juga bekerjamulai dari tahap pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi, mulai dari menafsirkankonsep awal ide cerita, membuat catatan shot list, hingga menyunting hasil akhir dariproduksi. Penelitian ini menjelaskan bahwa peran editor sangat krusial dalampembuatan film pendek, khususnya pada film pendek “KEMBALI”. Editor tidakhanya bertanggung jawab atas editing, tetapi juga turut memberikan saran dan masukanjika ada improvisasi pada saat shooting berlangsung, editor juga bekerja sama denganproduser, sutradara, penulis naskah, penata suara, dan penata artistik guna mencapaihasil akhir visual yang di inginkan. peran editor ditinjau dari sudut media massa, mediabaru, youtube, broadcasting, dan kehumasan. Metode penelitian yang digunakan padafilm film pendek “KEMBALI” adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatifsedangkan metode analisis menggunakan analisis deskriptif. Hasil dari pembuatan filmpendek “KEMBALI” menunjukkan bahwa peran penata editor menjadi sebuah kuncikesuksesan dalam suatu program dalam perencanaan konsep pada pasca-produksi.Rekomendasi yang diberikan adalah editor perlu memiliki teknik dasar editing gunakelancaran pada saat tahap editing, dan menghasilkan hasik akhir yang baik. Kata Kunci : Peranan Editor, Film Pendek, Film “KEMBALI”. ABSTRACT (IV Chapters + 49 Pages + 1 Table + 14 Figures + Appendix + 23 References) The short film "Kembali" tells the story of a wife's grief over losing her husband dueto an unhealthy lifestyle, despite their short time together after marriage. Through amagical place, the wife is given a chance to go back in time and change decisions shewould later regret. The film aims to educate and raise awareness about the importanceof adopting a healthy lifestyle from an early age. The purpose of this writing is toexplore the role of the editor in the short film “KEMBALI”. The editor works from thepre-production, production, and post-production stages, including interpreting theinitial concept of the story, creating shot list notes, and editing the final production.This research explains that the role of the editor is crucial in the making of short films,especially in "KEMBALI". The editor is not only responsible for editing but alsocontributes suggestions and input if there are improvisations during the shootingprocess. The editor collaborates with the producer, director, scriptwriter, sounddesigner, and art director to achieve the desired visual outcome. The role of the editoris viewed from the perspectives of mass media, new media, YouTube, broadcasting,and public relations. The research method used in the short film "KEMBALI" isdescriptive with a qualitative approach, while the analysis method used is descriptiveanalysis. The results of the short film "KEMBALI" show that the role of the editor iskey to the success of a program, especially in conceptual planning during post-production. The recommendation given is that editors should possess basic editingtechniques to ensure smooth editing processes and produce a good final result. Keywords: Editor Role, Short Film, “KEMBALI” Film.
ABSTRAK (xiii + 4 bab + 64 hal +7 Tabel + 26 gambar + 8 lamp + 11 Daftar Pustaka ) Karya Ilmiah ini bertujuan untuk menggambarkan peran seorang produser dalamfilm pendek "KEMBALI" agar dapat menghasilkan sebuah film pendek yangditerima dengan baik oleh khalayak. Film pendek "KEMBALI" memiliki pesanmengenai pentingnya menjaga pola hidup sehat agar bisa hidup lebih lama bersamapasangan hidup. Kisah ini masih sering terjadi di tengah-tengah masyarakat sekitarkita. Metode penelitian yang digunakan dalam film pendek "KEMBALI" adalahmetode observasi, sedangkan teknik analisis yang digunakan adalah observasideskriptif. Hasil dari pembuatan film pendek "KEMBALI" ini menunjukkan bahwaperan produser adalah kunci keberhasilan suatu program, seperti penyusunan,manajemen, kepemimpinan, menjadi seseorang yang solutif, dan maumendengarkan pendapat dari crew lainnya. Pengaruh seorang produser terhadapkualitas dan efektivitas kerja seluruh crew sangat tinggi karena produser mengaturjadwal dari masa pra-produksi, produksi, hingga pasca-produksi, mengelolakeuangan, mencari talent, mengurus perizinan, serta memimpin dan mengarahkanseluruh kru dengan komunikasi yang intens sehingga proses produksi dapat berjalandengan baik. Berdasarkan hasil dari kegiatan produksi ini, ditemukan beberapakendala selama pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi. Kendala ini membuatpenulis sebagai produser menjadi lebih memahami job desk sebagai produser yangmemegang peran sangat penting dalam keseluruhan tahap produksi.
ABSTRAK (x + 4 bab + 75 hal + 128 gambar + 9 lamp + 26 daftar pustaka) Film adalah media komunikasi yang efektif saat ini untuk menyampaikan informasisekaligus memberikan hiburan kepada masyarakat. Salah satu jenis film yang menarikperhatian masyarakat saat ini adalah film pendek. Film pendek adalah film yangmemiliki durasi waktu yang terbatas namun pesan yang terkandung didalamnya tetaptersampaikan. Agar film pendek bisa lebih menarik maka disinilah peran penata artistiksangat dibutuhkan. Penata artistik bertanggung jawab menciptakan estetika visual yangmenginspirasi penonton, menyampaikan pesan dengan jelas, dan menarik perhatianpenonton. Dalam perfilmanan, bakat seni berperan dalam mendesain elemen visualseperti setting, properti, kostum, dan tata rias. Hasil laporan akhir ini memaparkan bahwakeberhasilan produksi bergantung pada kinerja penata artistik, antara lain: Pertamaadalah tahap pra produksi dimana penata artistik mengatur dan menyiapkan kebutuhanproperti dan memproduksi properti. Kedua, selama tahap produksi, penata artistikmembantu menentukan set lokasi, membantu konsep dekorasi, memilih kostum yangsesuai, dan merias wajah. Ketiga, pada tahap paska produksi, penata artistik merapikandan mengembalikan semua materi yang dipinjam. Dengan peran yang krusial, penataartistik membantu menciptakan film yang tidak hanya indah secara visual, tetapi jugaefektif dalam menyampaikan pesan terhadap masyarakat.
ABSTRAK ( iv + IV Bab + 52 Hal + 20 Gamb + 2 Lamp + 14 Bibl (2014-2024) ) Penata Suara memiliki kinerja yang begitu penting dalam suatu produksi programacara. Permasalahannya untuk menghasilkan audio yang berkualitas bebas darinoise dan layak siar sulit dilakukan. Diperlukan sumber daya manusia yang mampumenggunakan peralatan audio yang canggih dan lingkungan produksi yangmendukung. Seorang Penata Suara yang kreatif dituntut menghasilkan audio yangberkualitas dalam memanfaatkan suasana lingkungan produksi berlangsung agardapat memperkuat gambar menjadi lebih bercerita. Dengan berkonsentrasi padateknik penataan suara pada produksi dokumenter Saman Silurus penata suara harusmampu mendalami konsep teknik pengambilan suara pada pra produksi, produksi,pasca produksi khususnya dalam menciptakan audio yang nantinya akan terdengarjelas dan sesuai dengan informasi yang akan diberikan kepada penonton. Filmdokumenter "Saman Silurus" mengisahkan kehidupan seorang ayah berusia 50tahun yang berkomitmen untuk meningkatkan ekonomi keluarganya melaluipeternakan lele. Dengan dukungan istrinya, Rohana, mereka mengatasi berbagairintangan dan berhasil membiayai pendidikan anaknya hingga jenjang kuliah.Tujuan penelitian ini untuk memahami kinerja, peran, tanggung jawab, dankontribusi penata suara dalam pembuatan film dokumenter, serta proses kerjanyadalam konteks komunikasi media massa dan broadcasting. Metode penelitian yangdigunakan adalah Studi Kasus, dengan metode pengumpulan data melalui observasinon partisipan, studi Pustaka dan wawancara mendalam. sedangkan metode analisadata menggunakan analisis tunggal. Hasil pembuatan Film Dokumenter “SamanSilurus” menunjukkan bahwa Kinerja Penata Suara sangat penting dalammanajemen suara, dari perencanaan hingga pengawasan, dan memiliki pengaruhbesar terhadap kinerja kru dengan mengurangi noise atau suara yang tidakdiinginkan.Kata kunci : Penata suara, Film Dokumnter, Kinerja Penata Suara
ABSTRAK Masa balita merupakan masa yang membutuhkan asupan gizi yangoptimal karena pada usia ini proses pertumbuhan dan perkembangan sangat pesat.Gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi pada balita disebabkan olehbanyak faktor diantaranya pendidikan terakhir ibu dan pengetahuan ibu tentang giziyang berkaitan langsung dengan penerimaan informasi dari luar tentang asupan makanbalita. Ketidakcukupan zat gizi pada balita akan berakibat pada kesehatan yang jikadibiarkan akan berdampak pada masalah gizi salah satunya adalah berat badan kurang(underweight). Penelitian ini bertujuan untuk mengalisis hubungan pendidikanterakhir dan pengetahuan ibu tentang gizi terhadap kejadian underweight pada balita(24-59 bulan) di Desa Sriamur. Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional secara purposive sampling dengan jumlah populasi berjumlah 80 responden.Data terkait pendidikan terakhir ibu diukur dengan kuesioner data umum responden,pengetahuan ibu tentang gizi diukur dengan kuesioner pengetahuan gizi dan polamakan balita diukur dengan kuesioner food frequency questionnaire (FFQ). Analisisuji hubungan dilakukan dengan menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa mayoritas ibu adalah berpendidikan tinggi sejumlah 57,5%dengan tingkat pengetahuan baik sejumlah 68,8% dan terdapat balita dengan beratbadan kurang (underweight) sejumlah 13,8%. Analisis bivariat menunjukkan terdapathubungan yang signifikan antara pendidikan terakhir ibu dengan kejadian underweightpada balita (24-59 bulan) (p=0,001) dengan nilai OR=18,750 dan terdapat hubunganyang signifikan antara pengetahuan ibu tentang gizi dengan kejadian underweight padabalita (24-59 bulan) (p=0,000) dengan nilai OR=14,906. Kesimpulan pada penelitianini adalah pendidikan terakhir ibu dan pengetahuan ibu tentang gizi mempengaruhikejadian underweight pada balita (24-59 bulan).Kata kunci: Balita, Pendidikan Ibu, Pengetahuan Gizi, Posyandu, Underweight ABSTRACT The toddler years are a period that requires optimal nutritional intakebecause at this age the growth and development process is very rapid. Growth anddevelopment disorders that occur in toddlers are caused by many factors, includingthe mother's latest education and the mother's knowledge about nutrition, which isdirectly related to receiving information from outside about the toddler's food intake.Insufficient nutrition in toddlers will have an impact on health which, if left unchecked,will result in nutritional problems, one of which is underweight. This study aims toanalyze the relationship between recent education and maternal knowledge aboutnutrition on the incidence of underweight in toddlers (24-59 months) in SriamurVillage. The research design used was cross-sectional with purposive sampling with apopulation of 80 respondents. Data related to maternal education were most recentlymeasured using a general respondent data questionnaire, maternal knowledge aboutnutrition was measured using a nutritional knowledge questionnaire and toddlers'eating patterns were measured using a food frequency questionnaire (FFQ). Analysisof relationship tests was carried out using the Chi-Square test. The research resultsshowed that the majority of mothers were highly educated 57,5%, with a good level ofknowledge 68,8%, and there were 13,8% underweight toddlers. Bivariate analysisshows that there is a significant relationship between the mother's last education andthe incidence of underweight in toddlers (24-59 months) (p=0.001) with a value ofOR=18.750 and there is a significant relationship between maternal knowledge aboutnutrition and the incidence of underweight in toddlers (24- 59 months) (p=0.000) withOR=14.906. The conclusion of this study is that the mother's latest education and themother's knowledge about nutrition influence the incidence of underweight in toddlers(24-59 months).Keywords: Mother's Education, Nutritional Knowledge, Posyandu, Toddlers,Underweight
ABSTRAK Peer Group Support merupakan dukungan sosial dalam suatupertemanan. Peer group support dapat mempengaruhi keputusan remaja, salah satunyadalam keputusan pemilihan makanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisishubungan peer group support dan aktivitas fisik dengan konsumsi pangan tinggi kaloridan IMT dan lingkar perut pada remaja gizi lebih. Desain penelitian ini adalah cross-sectional. Populasi pada penelitian ini adalah siswa siswi SMA Al – Azhar 2 Pejatenyang memenuhi kriteria inklusi, dan sampel pada penelitian ini sebanyak 70 respondendengan teknik purposive sampling. Hasil uji korelasi spearman menunjukan tidakterdapat hubungan yang signifikan antara peer group support dengan konsumsi pangantinggi kalori pada remaja gizi lebih (p=0,067) dan sedentary lifestyle dengan konsumsipangan tinggi kalori pada remaja gizi lebih (p=0,039). Terdapat hubunan berlawananantara sedentary lifestyle dengan IMT (p=0,003 ;r=-0,352) dan lingkar perut(p=0,016;r-0,0288). Terdapat hubungan yang signifikan antara peer group supportdengan IMT (p=0,034;r=0,254) dan lingkar perut (p=0,001;r=0,376). Terdapathubungan yang signifikan antara konsumsi pangan tinggi kalori dengan IMT(p=0,037;r=0,249) dan lingkar perut (p=0,008;r=0,314). Kesimpulan penelitian initidak terdapat hubungan antara peer group support dan sedentary lifestyle dengankonsumsi pangan tinggi kalori pada remaja gizi lebih di SMA Al – Azhar 2 Pejaten.Terdapat hubungan yang berlawanan antara sedentary lifestyle dengan IMT danlingkar perut dan terdapat hubungan yang signifikan antara peer group support dankonsumsi pangan tinggi kalori dengan IMT dan lingkar perut.Kata Kunci : Remaja, Konsumsi Pangan Tinggi Kalori, Sedentary Lifestyle, PeerGroup Support ABSTRACT Peer Group Support is social support within a friendship group. Peergroup support can influence adolescents' decisions, including food choices. This studyaims to analyze the relationship between peer group support and physical activity withhigh-calorie food consumption, BMI, and waist circumference in overweightadolescents. The study design is cross-sectional. The population of this study includesstudents from SMA Al-Azhar 2 Pejaten who meet the inclusion criteria, and the sampleconsists of 70 respondents selected through purposive sampling. Spearmancorrelation test results indicate no significant relationship between peer group supportand high-calorie food consumption in overweight adolescents (p=0.067) andsedentary lifestyle with high-calorie food consumption (p=0.039). There is an inverserelationship between sedentary lifestyle and BMI (p=0.003; r=-0.352) and waistcircumference (p=0.016; r=-0.288). There is a significant relationship between peergroup support and BMI (p=0.034; r=0.254) and waist circumference (p=0.001;r=0.376). There is a significant relationship between high-calorie food consumptionand BMI (p=0.037; r=0.249) and waist circumference (p=0.008; r=0.314). Theconclusion of this study is that there is no relationship between peer group supportand sedentary lifestyle with high-calorie food consumption in overweight adolescentsat SMA Al-Azhar 2 Pejaten. There is an inverse relationship between sedentarylifestyle and BMI and waist circumference, and a significant relationship between peergroup support and high-calorie food consumption with BMI and waist circumference.Keywords : Adolescents, High Calorie Food Consumption, Sedentary Lifestyle, PeerGroup Support
ABSTRAK Diabetes mellitus merupakan penyakit tidak menular yang salah satunyadisebabkan oleh konsumsi asupan gula berlebih pada makanan atau minumanberpemanis. Remaja merupakan kelompok yang sering terpapar minuman manis.Konsumsi minuman manis pada remaja secara berlebihan dapat menyebabkan risikotinggi terkena diabetes mellitus. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubunganantara konsumsi sugar sweetened beverages terhadap risiko diabetes mellitus padaremaja. Desain penelitian yang digunakan cross sectional dengan non probabilitysampling secara purposive serta jumlah subjek yang diperlukan sebanyak 54 subjek.Data yang dikumpulkan menggunakan kuesioner dan wawancara secara langsungterkait frekuensi konsumsi SSB menggunakan beverage quesstionnaire-15, risikoterkena diabetes mellitus menggunakan kuesioner skrining type 2 diabetes risk(SFBLF) dan data status gizi didapatkan melalui pengukuran antropometri. Hasilpenelitian ini menunjukkan terdapat 42,6% remaja yang berisiko tinggi terkenadiabetes mellitus di wilayah Kota Bogor dan terdapat 44,4% remaja yang memilikikebiasaan konsumsi SSB tinggi. Analisis bivariat menggunakan uji chi-squaremenunjukkan terdapat hubungan antara konsumsi sugar sweetened beverages(p=0,018), IMT/U (p=0,045), dan lingkar pinggang (p=0,023) terhadap risiko terkenadiabetes mellitus pada remaja di wilayah Kota Bogor. Didapatkan pula nilai OR=4,583pada variabel konsumsi SSB terhadap risiko terkena diabetes mellitus sehingga remajayang mengkonsumsi SSB tinggi berpeluang 4,583 kali lebih besar berisiko tinggiterkena diabetes mellitus dibandingkan dengan yang mengkonsumsi SSB rendah.Kesimpulan penelitian ini terdapat hubungan antara tingkat frekuensi konsumsi sugarsweetened beverages dan status gizi terhadap risiko terkena diabetes mellitus padaremaja. Konsumsi SSB pada remaja di penelitian ini tergolong tinggi sehingga secaratidak langsung meningkatkan risiko terkena diabetes mellitus pada remaja.Kata kunci : Diabetes mellitus, remaja, status gizi, sugar sweetened beverages. ABSTRACT Diabetes mellitus is a non-communicable disease which is caused byconsuming excess sugar in sweetened foods or drinks. Teenagers are a group that isoften exposed to sweet drinks. Excessive consumption of sweet drinks in teenagers cancause a high risk of developing diabetes mellitus. The aim of this study was to analyzethe relationship between consumption of sugar sweetened beverages and the risk ofdiabetes mellitus in adolescents. The research design used was cross sectional withpurposive non-probability sampling and the number of subjects required was 54subjects. Data collected using questionnaires and interviews directly related to thefrequency of SSB consumption using the beverage questionnaire-15, the risk ofdeveloping diabetes mellitus using the type 2 diabetes risk (SFBLF) screeningquestionnaire and nutritional status data obtained through anthropometricmeasurements. The results of this study show that there are 42.6% of teenagers whoare at high risk of developing diabetes mellitus in the Bogor City area and there are44.4% of teenagers who have high SSB consumption habits. Bivariate analysis usingthe chi-square test showed that there was a relationship between consumption of sugarsweetened beverages (p=0.018), BMI/U (p=0.045), and waist circumference(p=0.023) on the risk of developing diabetes mellitus in adolescents in the Bogor Cityarea. The value of OR=4.583 was also obtained for the SSB consumption variable onthe risk of developing diabetes mellitus so that teenagers who consumed high levels ofSSB had a 4.583 times greater chance of developing diabetes mellitus compared tothose who consumed low levels of SSB. The conclusion of this study is that there is arelationship between the level of frequency of consumption of sugar sweetenedbeverages and nutritional status on the risk of developing diabetes mellitus inadolescents. SSB consumption in adolescents in this study was relatively high, whichindirectly increased the risk of developing diabetes mellitus in adolescents.Keywords: Adolescent, diabetes mellitus, nutritional status, sugar sweetenedbeverages.
ABSTRAK Anemia defisiensi zat besi merupakan salah satu masalah yang terjadipada remaja putri. Salah satu faktor penyebab remaja putri mengalami anemiadefisiensi zat besi adalah perilaku konsumsi makanan dan minuman. Penelitian inibertujuan untuk menganalisis hubungan konsumsi buah dan sayur serta minuman tehready to drink pada siswi terhadap risiko anemia defisiensi zat besi di SMAMuhammadiyah 2 Kota Tangerang. Desain penelitian cross sectional dengan jumlahsampel 79 siswi menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan datamenggunakan metode wawancara langsung dengan bantuan kuesioner screeningrisiko anemia dan semi quantitative food frequency questionnaire (SQ-FFQ). Hasilpenelitian menunjukkan 62,00% remaja putri berisiko anemia defisiensi zat besi.Analisis hubungan menggunakan uji chi-square menunjukkan bahwa terdapathubungan signifikan antara jumlah berat konsumsi sayur (gram/hari) dengan risikoanemia defisiensi zat besi (p-value=0,048) dengan nilai OR=5,875, artinya siswi yangmengonsumsi sayur <250 gram/hari mempunyai peluang 5,875 kali berisiko anemiadefisiensi zat besi dibandingkan siswi yang mengonsumsi sayur >250 gram/hari. Tidakterdapat hubungan antara jumlah berat konsumsi buah (gram/hari) (p-value=0,904)dan tingkat kecukupan vitamin C dari konsumsi buah dan sayur (p-value=0,474)dengan risiko anemia defisiensi zat besi. Tidak terdapat juga hubungan jumlahkonsumsi teh ready to drink (mL/hari) (p-value=0,670) dan rata-rata konsumsi hariankafein dari konsumsi teh ready to drink dengan risiko anemia defisiensi zat besi (p-value=0,659). Konsumsi buah dan sayur yang cukup dan mengurangi konsumsi tehready to drink pada masa remaja putri dapat menghindari risiko terjadinya anemiadefisiensi zat besi sehingga dapat mencegah dampak negatif yang berlanjut hinggadewasa.Kata kunci : Kafein, Remaja Putri, Risiko Anemia, Teh Ready to Drink dan Vitamin C ABSTRACT Iron-deficiency anemia is a problem that occurs in adolescent girls.One of the factors that causes young women to experience iron deficiency anemia istheir food and drink consumption behavior. This study aims to analyze the relationshipbetween consumption of fruit and vegetables and ready-to-drink tea among femalestudents on the risk of iron deficiency anemia at SMA Muhammadiyah 2 TangerangCity. Cross-sectional research design with a sample size of 79 female students usingthe purposive sampling technique. Data were collected using a direct interview methodwith the help of an anemia risk screening questionnaire and a semi-quantitative foodfrequency questionnaire (SQ-FFQ). The results showed that 62.00% of young womenwere at risk of iron deficiency anemia. Analysis of the relationship using the chi-squaretest showed that there was a significant relationship between the amount of vegetableconsumption (grams/day) and the risk of iron deficiency anemia (p-value = 0.048)with an OR value of 5.875, meaning that female students consumed vegetables (250grams/day). days have a 5.875 times chance of being at risk of iron deficiency anemiacompared to female students who consume >250 grams of vegetables/day. There wasno relationship between the amount of fruit consumed (grams/day) (p-value=0.904) and the level of vitamin C adequacy from fruit and vegetable consumption (p-value=0.474) with the risk of iron deficiency anemia. There was also no relationship between the amount of ready-to-drink tea consumption (mL/day) (p-value = 0.670)and the average daily caffeine consumption from ready-to-drink tea consumption withthe risk of iron deficiency anemia (p-value = 0.659). Consuming enough fruit andvegetables and reducing consumption of ready-to-drink tea during teenage girls canavoid the risk of iron deficiency anemia and thus prevent negative impacts thatcontinue into adulthood.Keywords : Caffeine, Adolescent Girls, Risk of Anemia, Ready-to-Drink Tea and Vitamin C
ABSTRAK Remaja merupakan periode transisi yang rentan terhadap perubahangaya hidup, seperti meningkatnya konsumsi fast food dan gaya hidup sedentary(sedentary lifestyle) yang menjadi perhatian utama karena dapat berdampak terhadapstatus gizi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antarakebiasaan konsumsi fast food dan sedentary lifestyle terhadap status gizi remaja diSMKN 32 jakarta. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional studi yangdiukur dengan kuesioner ASAQ dan SQ-FFQ. Pemilihan responden dilakukandengan purposive sampling, yaitu sebanyak 82 responden yang terdiri dari kelas Xdan XI. Hasil dari analisis uji korelasi rank spearman menunjukkan bahwa terdapathubungan yang signifikan antara kebiasaan konsumsi fast food terhadap status gizidengan nilai p-value (p=0,000) nilai koefisien korelasi (r = 0,457) dan kebiasaankonsumsi fast food dengan lingkar perut (p=0,000) nilai koefisien korelasi (r =0,424) serta terdapat hubungan antara sedentary lifestyle dengan status gizi (p=0,018)nilai koefisien korelasi (r = 0,290) dan sedentary lifestyle dengan lingkar perut(p=0,007) nilai koefisien korelasi (r = 0,222). Kesimpulan dari penelitian ini terdapathubungan antara kebiasaan konsumsi fast food dan sedentary lifestyle terhadap statusgizi remaja di SMKN 32 Jakarta.Kata kunci: fast food, lingkar perut, remaja, sedentary lifestyle, status gizi, ABSTRAK Adolescence is a transitional period that is vulnerable to lifestylechanges, such as increased consumption of fast food and sedentary lifestyle, whichare of major concern due to their potential impact on nutritional status. This studyaimed to analyze the relationship between fast food consumption habits andsedentary lifestyle on the nutritional status of adolescents at SMKN 32 Jakarta. Thisstudy used a cross-sectional study design measured using the ASAQ and SQ-FFQquestionnaires. Respondent selection was conducted using purposive sampling,involving 82 respondents from grades 10 and 11. The results of the Spearman rankcorrelation test showed that there was a significant relationship between fast foodconsumption habits and nutritional status with a p-value (p=0.000) and correlationcoefficient (r = 0.584), and between fast food consumption habits and waistcircumference (p=0.000) with a correlation coefficient (r = 0.574). There was also arelationship between sedentary lifestyle and nutritional status (p=0.037) with acorrelation coefficient (r = 0.226) and sedentary lifestyle and waist circumference(p=0.041) with a correlation coefficient (r = 0.222). The conclusion of this study isthat there is a relationship between fast food consumption habits and sedentarylifestyle on the nutritional status of adolescents at SMKN 32 Jakarta.Keywords: abdominal circumference, fast food, nutritional status, sedentary lifestyle, teenegers,
ABSTRK Secara Nasional target angka cakupan ASI Eksklusif di Indonesia sebesar80% dengan cakupan IMD tahun 2020 sebesar 77,6%. Prevalensi Di wilayah Jakartapada tahun 2021 sebesar 98% menurun dibandingkan tahun 2020 yaitu 100,25%.Proses Pelaksanaan IMD dapat mempengaruhi keberhasilan ASI salah satunyadisebabkan dari pelekatan skin to skin pada satu jam pertama dan durasi menyusuisehingga meningkatkan keberhasilan ASI Eksklusif. Selain itu juga membentukbounding dari interaksi antara ibu dan bayi saat menyusui. Tujuan menganalisishubungan antara IMD, Bounding ibu dan bayi dengan Jenis-jenis pemberian ASIterhadap keberhasilan ASI Eklusif. Desain penelitian adalah cross-sectional denganTeknik pengambilan sampel menggunakan sampling purposive dengan subjek yangdiperlukan 62 responden dan waktu penelitian dilakukan juli 2024 di PuskesmasKecamatan Cempaka Putih dengan menggunakan kuisioner ASI Eksklusif, IMD, danBounding yaitu kusioner EPDS (Edinburgh Postnatal Depression Scale) yangdidapatkan melalui wawancara secara langsung dan pengisian kuisioner. Hasilpenelitian menunjukan mayoritas ibu melakukan proses IMD secara baik (69,4%)sehingga membentuk bounding ibu dan bayi yang kuat sebanyak (85,5%)mempengaruhi keberhasilan ASI Eksklusif dengan pengujian chi-square danpemberian ASI Eksklusif lebih banyak secara Direct Breastfeeding sebanyak (56,5%)dengan pengujian uji spearman. Hasil analisis hubungan menunjukan bahwa terdapathubungan antara IMD (p-value = 0,001, OR = 8,1), Bounding ibu dan bayi (p-value =0,004, OR = 6,7) dan jenis pemberian ASI (p-value= 0,001, r = 0,583) terhadapkeberhasilan ASI Eksklusif. Kesimpulan penelitian menunjukan adanya keterkaitanantara proses IMD, pembentukan bounding antara ibu dan bayi serta jenis pemberianASI yang tepat mempengaruhi keberhasilan ibu dalam memberikan ASI Eksklusif.Kata kunci : Bounding ibu dan bayi, Inisiasi Menyusui Dini, Jenis Pemberian ASI,Keberhasilan ASI Eksklusif ABSTRACT Nationally, the target for exclusive breastfeeding coverage in Indonesiais 80% with IMD coverage in 2020 of 77.6%. Prevalence in the Jakarta area in 2021was 98%, down from 100.25% in 2020. The IMD implementation process can affectthe success of breastfeeding, one of which is due to skin-to-skin attachment in the firsthour and the duration of breastfeeding, thereby increasing the success of exclusivebreastfeeding. In addition, it also forms a bounding from the interaction betweenmother and baby while breastfeeding. The aim of analyzing the relationship betweenIMD, mother and baby bonding with types of breastfeeding on the success of exclusivebreastfeeding. The research design is cross-sectional with a sampling technique usingpurposive sampling with 62 respondents required and the research time was conductedin July 2024 at the Cempaka Putih District Health Center using the ExclusiveBreastfeeding, IMD, and Bounding questionnaires, namely the EPDS (EdinburghPostnatal Depression Scale) questionnaire obtained through direct interviews andfilling out questionnaires. The results of the study showed that the majority of motherscarried out the IMD process well (69.4%) so that it formed a strong mother and babybonding (85.5%) influencing the success of Exclusive Breastfeeding with chi-squaretesting and giving Exclusive Breastfeeding more through Direct Breastfeeding(56.5%) with Spearman test testing. The results of the relationship analysis showedthat there was a relationship between IMD (p-value = 0.001, OR = 8.1), Mother andBaby Bounding (p-value = 0.004, OR = 6.7) and type of breastfeeding (p-value =0.001, r = 0.583) to the success of Exclusive Breastfeeding. The conclusion of thestudy showed a relationship between the IMD process, the formation of bondingbetween mother and baby and the right type of breastfeeding influencing the successof mothers in giving Exclusive Breastfeeding.Keywords: Mother and baby bonding, Early initiation of breastfeeding, Types ofbreastfeeding, Success of exclusive breastfeeding